Jum’at Agung

Posted: 21 April 2011 in AGAMA
Tags: , , ,

Jum’at Agung merupakan hari peringatan dimana Yesus rela mati untuk mengangkat dan menebus  manusia dari lumpur dosa yang kotor dan jahat. Hal ini  merupakan tindakan Yesus untuk memperbaiki hubungan antara manusia yang penuh dosa dengan Allah Bapa di Surga.  Karena  begitu besar kasih karuniaNya kepada kita manusia sehingga ia rela mati di kayu salib.

Salib Kristus yang dipenuhi oleh darah kudus seorang anak manusia harus dimaknai dengan baik oleh kita sebagai pengikut setiaNya. Memaknai  Salib Kristus bukan hanya merenung dan kemudian melakukan dosa-dosa kembali, tetapi salib Kristus kita pahami dalam kerangka pertobatan akan segala dosa-dosa yang kita perbuat dan menjauhkan perbuatan dosa itu jauh-jauh dari kehidupan kita. Karena itu Jum’at  Agung ini kiranya menyentuh hati kita untuk berbalik kepada Yesus dan memohon pengampunan sebab Yesuslah kayu yang hidup yang membawa kehidupan melalui penderitaan dan kematiannya di Golgata.

Meteraikan dan pikullah lah salib Kristus dalam kehidupan kita di  dunia ini, seperti Simon yang berasal dari Kirene yang memikul Salib Yesus ke bukit tengkorak / Golgata. Jangan pernah malu untuk memikul salib Yesus di kehidupan ini, karena dengan demikian Yesus membentuk dan mengubah kita menjadi saksi bahwa Kristuslah Juruslamat yang menebus dosa manusia. Kita bersaksi bahwa Dialah Mesias sejati yang membawa keselamatan bagi dunia.

Sabagai ilustrasi ada perlombaan memikul kayu salib dengan syarat para peserta tersebut harus bisa sampai ke seberang lembah. Kemudian dimulailah perlombaan tersebut. Saat itu ada satu peserta yang merasa terlalu berat untuk mengangkat kayu salib tersebut, ia pun tak habis akal sehingga di tengah jalan ia memotong kayu salib tersebut. Setelah dipotong, kemudian ia pun melanjutkan perjalanan. Tak cukup sampai disitu sampai ia pun harus memotong kayu salib tersebut sehingga menjadi kecil dan ringan untuk dibawa. Akhirnya sampailah ia sebagai orang yang pertama di bibir lembah dan alangkah terkejutnya ia. Kemudian ia berpikir bagaimana caranya supaya sampai ke seberang lembah. Sambil berpikir tibalah peserta yang lain dengan membawa kayu salib yang masih utuh dan memakai kayu salib tersebut sebagai media jembatan untuk sampai ke seberang dan menjadi pemenangnya.

Demikian juga dalam kehidupan imani kita, jangan pernah malu untuk memikul salib yesus karena salib itulah sebagai jalan bagi kita untuk sampai ke Sorga.

MEMAKNAI TELUR PASKAH

Posted: 20 April 2011 in AGAMA
Tags: , , ,

Teringat kembali akan tradisi mencari telur ketika saya masih kecil dulu. Pada minggu pagi sehabis melaksanakan kebaktian paskah, saya dan teman-teman sekolah minggu lainnya berlomba mencari telur yang disembunyikan oleh guru sekolah minggu di bagian-bagian tertentu dalam gereja dan pekarangan gereja.

Mengapa tradisi mencari telur ini diajarkan kepada anak-anak sekolah minggu, dan kenapa harus telur yang dicari? Sebuah pertanyaan yang gampang dijawab oleh anak-anak sekolah minggu saat itu. Dan jawaban dari tiap-tiap anak sekolah minggu ketika itu bervariasi, biasalah masih anak-anak. Ketika beranjak remaja barulah difahami makna sesungguhnya dari rutinitas mencari telur paskah yang dilakukan setiap tahunnya itu.

Anak-anak identik dengan selembar kain putih tanpa noda yang perlu mengetahui bahwa manusia masih  ada di dunia ini karena pengorbanan dan kasih Yesus yang rela berkorban disalibkan di kayu salib untuk menebus seluruh dosa umat manusia dan memperbaiki hubungan manusia dengan Allah Bapa di Surga. Anak-anak diajarkan agar mencari dan menjadikan Yesus sebagai Tuhan dalam hidupnya.

Kemudian terlintas pertanyaan yang sering dilontarkan kebanyakan orang; mana yang duluan telur atau ayam? Telur merupakan benda mati sedangkan ayam adalah mahluk hidup. Tetapi secara empirik ayam yang merupakan mahluk hidup ini sebenarnya berasal dari telur yang merupakan benda mati. Sungguh kuasa Allah yang sangat luar biasa. Tetapi sebagian orang akan menjawab yang duluan ada itu adalah ayam karena ayamlah yang menghasilkan telur. Secara philosofi perdebatan tentang mana yang duluan ada antara ayam dan telur ini sulit dibuktian, yang terpenting adalah bahwa Allah telah menciptakan semua mahluk hidup di dunia ini.

Ilustrasi tentang telur dan ayam tersebut dapat menjawab pertanyaan tentang keidentikan paskah dengan telur? Pada hari ke-3 setelah Yesus disalib, mati dan dikuburkan, tepatnya pada hari minggu pagi  Yesus bangkit dan hidup kembali dan menggulingkan makam batu tempat Yesus dikubur.  Oleh karena Yesus hidup dari sesuatu yang mati sebelumnya maka telur dipakai sebagai simbol makam batu darimana Yesus Kristus keluar menyongsong hidup baru melalui Kebangkitan-Nya. Telur merupakan cikal bakal kehidupan dalam artian telur menetas menjadi seekor anak ayam yang kemudian dijadikan sebagai lambang bangkitnya sebuah kehidupan. Oleh karena itu telur dijadikan simbol bahwa oleh kebangkitan kristus, hidup kita dimulai lagi secara baru untuk menjadi hidup yang berlimpah berkat.

Telur Paskah bukanlah sesuatu yang religius untuk dikultuskan atau disembah, tetapi ia hanyalah sebuah simbol yang dipakai untuk membuat orang yang percaya kepada-Nya lebih mendalami arti paskah yang sesungguhnya yaitu dengan pengorbanan dan penderitaan Yesus Kristus di kayu salib telah menjembatani kembali hubungan kita dengan Allah karena Yesus telah menebus dosa-dosa kita dengan darah-Nya yang kudus. “Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan DiriNya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” (Filipi 2:8)

Sesungguhnya Paskah merupakan  kemenangan Yesus Kristus yang mengalahkan kuasa maut (kematian) melalui kebangkitanNya. Tanpa kebangkitanNya, iman Kristen menjadi sia-sia belaka. Tanpa kebangkitanNya maka kepercayaan kita kepadaNya tidak berarti apa-apa dan kita tetap akan mengalami kebinasaan karena dosa. Tetapi sebaliknya, karena kebangkitanNya kita sekarang memiliki pengharapan dan masa depan yang pasti.


Seorang wanita tangguh yang dilahirkan pada 21 April tahun 1879 di kota Jepara, Jawa Tengah memiliki sosok kewanitaan yang sungguh berbeda dengan wanita lain pada zamannya. Sosok wanita itu adalah Raden Ajeng Kartini. Wanita yang tumbuh dan dibesarkan dalam budaya dan adat istiadat kebangsawanan/kekratonan  yang cukup kental dimana pada saat itu seorang wanita tidak diperbolehkan melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi oleh orangtuanya.

R.A Kartini dipingit sambil menunggu waktu untuk dinikahkan. Oleh karena itu Kartini sangat sedih dengan hal tersebut, ia ingin menentang tapi tak berani karena takut dianggap anak yang tak berbakti kepada orang tua. Kartini pun tak habis akal, karena sekolah dilarang, maka  ia pun mengambil kesibukan untuk menghilangkan rasa sedihnya dengan cara mengumpulkan buku-buku pelajaran dan buku ilmu pengetahuan lainnya untuk dibacanya di rumah. Dengan kegemarannya membaca inilah, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir wanita Eropa. Timbul hasrat dalam benaknya untuk memajukan wanita Indonesia. Kemudian ia mengumpulkan teman-teman wanitanya untuk diajarkan tulis menulis dan ilmu pengetahuan lainnya (emansipasi). Hasil karya R.A Kartini terkenal adalah buku yang berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang” atau versi bahasa belandanya terkenal dengan sebutan “DOOR DUISTERNIS TOT LICHT”.

Dalam kelemah lembutan Kartini sebagai putri bangsawan terpancar sebuah kekuatan motivasi yang keluar dari dalam dirinya agar bagaimana sesama kaumnya perempuan bisa paling tidak setara dengan derajat  laki-laki dalam memperoleh hak-hak sebagai manusia. Kartini berjuang demi kepentingan orang banyak. Kartini yang merasa tidak bebas menentukan pilihan bahkan merasa tidak mempunyai pilihan sama sekali karena dilahirkan sebagai seorang wanita, juga selalu diperlakukan beda dengan saudara maupun teman-temannya yang pria, serta perasaan iri dengan kebebasan wanita-wanita Belanda, akhirnya menumbuhkan keinginan dan tekad di hatinya untuk mengubah kebiasan kurang baik itu. Dengan keberanian dan pengorbanan yang tulus, dia mampu menggugah kaumnya dari belenggu diskriminasi.

Sosok Kartini mewakili kaum wanita lainnya  menunjukkan bahwa di balik kelemah lembutan kaum wanita, sebenarnya tersimpan kekuatan yang cukup besar.  Dan didalam kesedihannya memiliki ketabahan dan kesabaran serta motivasi yang tinggi. Kiranya ke depan semakin banyak lahir kartini-kartini baru di negara kita ini yang mau berjuang demi kepentingan orang banyak.



Ketika mereka sedang makan (paskah), Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada murid-muridnya dan berkata : “Ambillah, makanlah, inilah tubuhku”. Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikanya kepada mereka dan berkata :”Minumlah, kamu semua dari cawan ini. Sebab inilah darahKu, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa. Akan tetapi aku berkata kepadamu : mulai dari sekarang Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur ini sampai pada hari Aku meminumnya yaitu yang baru, bersama-sama dengan kamu dalam Kerajaan Bapa-Ku.”

Belum pernah Ia berkata sejelas itu tentang kematian-Nya, atau bagaimana memberikan “pengampunan” kepada orang banyak. Bertahun-tahun kemudian, sementara murid-murid memikirkan apa yang terjadi malam itu, mereka melihat bahwa memecah-mecahkan  roti merupakan lambang dari menghancurkan tubuh-Nya di atas salib, dan bahwa cawan yang berisi anggur yang diberikan-Nya kepada mereka merupakan lambang darah-Nya telah makan roti dan minum anggur berulang kali. Kejadian yang sederhana ini menjadi lambang suci iman orang kristen.

Manakala Rasul Paulus berusaha menceritakan kepada jemaat di Korintus apa yang terjadi pada pesta perpisahan ia mengatakan, “Bahwa Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecahkannya dan berkata….. perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku! Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang.”

Satu hal paling berkesan yang Yesus perbuat pada malam itu adalah menyerahkan roti dan anggur kepada Yudas. Ia  tahu sekali apa yang Yudas akan lakukan, namun Ia berkata kepadanya, bahkan kepada kita semua, “Ingatlah akan Aku”. Itu sudah cukup untuk melembutkan hati yang keras, tetapi Yudas terlanjur melangkah terlalu jauh.

Tidak lama kemudian Yesus mengejutkan peserta perjamuan itu dengan mengatakan, “sesungguhnya seorang dari antara kamu akan menyerahkan Aku.”

Mereka tidak yakin. Mereka menyangka mungkin ucapan-Nya keliru. Masing-masing coba mengingat apakah pernah mengucapkan atau melakukan sesuatu yang bisa mendatangkan  malapetaka kepada Guru mereka. Satu persatu bertanya kepada-Nya, “bukan aku, ya Tuhan?” Ia tidak menyahut, sehingga Petrus memberi isyarat  kepada Yohanes, yang duduk di samping Yesus, agar mendapatkan siapa pengkhianat itu.

Yohanes berbisik kepada Yesus,”bukan aku, ya Tuhan?” Dengan lembut Yesus menyahut,”Dia yang bersama-sama dengan Aku mencelupkan tangannya ke dalam pinggan ini, dialah yang akan menyerahkan Aku.”

Ketika Yesus mencelupkan tangan-Nya ke dalam pinggan ia menyerahkan kepada Yudas. Yudas yang berdiam diri sejak tadi sekarang balik bertanya sebagaimana murid yang lain, “Bukan aku ya Rabi?”

Sesungguhnya dialah orang yang berbuat seperti itu. Tetapi Yesus menjawab kepadanya,”engkau telah mengatakannya,” dengan kata lain menjawab”ya”. Kemudian Yesus berbisik kepada Yudas, yang tak seorang pun mendengarnya,”apa yang hendak kau lakukan, segeralah perbuat.” Seketika itu juga Yudas bangkit dan pergi ke luar.


RECRUITING & TRAINING

Permasalahan:

Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang otomotif menghadapi sebuah permasalahan sebagai berikut:

a.         Manajer SDM-nya mengundurkan diri karena pindah bekerja di perusahaan lain yang menurutnya lebih baik;

b.        Perusahaan membutuhkan enam orang tenaga sales baru;

c.         Tenaga Satuan Pengamanan (Satpam) yang ada sebanyak sepuluh orang diharapkan dapat menjadi tenaga “Satpam Plus” yang ramah dan mampu menjadi semacam resepsionis yang baik.

Anda yang selama ini sebagai seorang Supervisor pada Divisi SDM dipromosikan untuk menggantikan posisi Manajer SDM yang mengundurkan diri.

Langkah-langkah apa yang akan Saudara tempuh untuk melakukan training pada enam orang tenaga sales baru yang direkrut tersebut juga kepada sepuluh orang tenaga Satpam yang ada supaya dapat menjadi tenaga “Satpam Plus” tersebut?

Jawaban:

Langkah awal yang harus dilakukan adalah melakukan koordinasi dengan manajer yang lain terutama manajer SDM. Hal ini terkait dengan biaya yang dibutuhkan untuk mengadakan rekrutmen dan pelatihan sales baru maupun untuk pelatihan untuk “satpam plus”. Pertimbangan lain adalah ketersediaan tenaga pelatih, sehingga dengan dilakukan koordinasi tersebut dapat ditentukan berapa lama pelatihan akan dilakukan dan apakah akan dilakukan secara internal atau dilakukan melalui pihak eksternal.

Langkah berikutnya adalah membagi pelatihan untuk sales dan pelatihan untuk “satpam plus” dalam sebuah kepanitiaan.

Secara teknis, hal-hal yang dapat dilakukan dalam pelatihan tersebut adalah:

A. Pelatihan Sales Promotion Person (SPP)

Materi pelatihan untuk Sales Promotion Person (SPP) dikembangkan sendiri berdasarkan beberapa pemahaman dasar:

1.      Bahwa pekerjaan sebagai SPP adalah pekerjaan yang dianggap sangat sederhana danmerupakan pekerjaan tanpa jalur karier yang jelas. Para pekerjanya sulit melihat masa depandan mendapat kepuasan dari pekerjaan seperti ini kecuali penghasilan yang didapatkan,baik untuk kepentingan diri maupun untuk kepentingan keluarga. Ketiadaan visi yang bermakna tersebut akan mempengaruhi kinerja mereka.

2.      Karena dipandang sebagai pekerjaan yang sederhana, para calon maupun mereka yangsudah menjadi SPP tidak membekali diri atau dibekali dengan pengetahuan yang memadai,yang memampukan mereka membangun karier dan menjalani pekerjaan ini dengan sikapdan perasaan yang positif. Padahal, kepemilikan atas pengetahuan yang memadai akanmembuat mereka mampu membangun karier dan masa depan yang lebih baik melalui profesiini.

3.      Bahwa waktu yang tersedia untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan sederhana di lantaipenjualan adalah kesempatan yang berharga untuk mengembangkan sikap-sikap profesionaldalam bekerja. Karena itu, jika arah dari pengembangan sikap ini bisa dipetakan denganbaik, maka akan berkembang pula sikap-sikap profesional dalam diri para (calon) SPP, yang selanjutnya akan memberikan kontribusi pada kinerja mereka di lantai penjualan dan peluang berkembang di masa yang akan datang.

4.      Bahwa ramuan ketrampilan untuk menjalani profesi ini tidaklah sederhana jika inginmenghasilkan SPP yang bertahan dalam perjuangannya membangun karier dan masa depan. Karena itu, identifikasi atas jenis-jenis ketrampilan yang harus dikuasai oleh seseorang yangakan menjalani profesi ini amat penting.

Maka melalui eksplorasi yang dilakukan melalui studi pustaka, observasi, dan wawancara-wawancara singkat, dirumuskan gambaran materi pelatihan sebagai berikut:

a)      Materi pelatihan akan dirancang sedemikian rupa sehingga menghasilkan “A Great Sales Person”, yakni seorang SPP yang mempunyai visi, cerdas, trampil, dan punya sikap profesional (visionary, smart, skilful, and professional in terms of attitude). Ciri-ciri itu sejalan denganempat dimensi yang akan dikembangkan dalam pelatihan ini, yakni dimensi visi, pengetahuan, ketrampilan, dan sikap.

b)      Pada dimensi Visi, yang ingin ditanamkan adalah 5 komponen visi yang dapat membawapara peserta pelatihan menyadari bahwa profesi SPP adalah sebuah profesi yang bernilai.Lima visi tersebut menempatkan SPP sebagai: 1) sumber pendapatan yang bernilai, 2) pemenuhan tanggung jawab sosial, 3) kesempatan mewujudkan kepuasan kerja, 3) kesempatan masuk ke jenjang karir berikutnya, dan 5) kesempatan membangun life skills.

c)      Pada dimensi Pengetahuan, diarahkan untuk memperkaya pengetahuan para calon SPG/B dengan 7 Topik Pengetahuan Umum dan 6 Topik Pengetahuan Khusus. Ketujuh topik pengetahuan umum itu adalah: 1) gambaran industri ritel, 2) gambaran bisnis ritel, 3) gambaran manajemen ritel, 4) customer service, 5) emotional intelligence, 6) salesmanship,dan 7) dasar-dasar product knowledge. Sementara, pengetahuan khusus mencakup: 1) jobdescription, 2) job requirement, 3) teknik-teknik penjualan, 4) teknik-teknik ekspresi diri, 5)teknik-teknik customer service, dan 6) perilaku pelanggan.

d)     Pada dimensi Ketrampilan, perlu dikembangkan 22 jenis ketrampilan khusus, yang merupakan elaborasi dari 7 ketrampilan generik. Ketujuh ketrampilan generik itu adalah: 1) komunikasi,2) interaksi, 3) teamwork, 4) penjualan, 5) administasi, 6) ekspresi diri, dan 7) ketrampilan pembelajaran. Untuk ke 22 jenis ketrampilan khusus tersebut lihat lebih lanjut dalam laporanterpisah mengenai teknis pelatihan.

e)      Sementara pada dimensi Sikap/Perilaku, kami melihat perlu dikembangkan 12 sikap/nilaidasar. Lima di antaranya personal (kerja dengan standar tinggi, pengorganisasian diri, inisiatif,perhatian pada hal hal detail dan kesabaran); dan tujuh di antaranya bersifat inter-personal (assertiveness, leadership, persistence, persuasiveness, flexibility/versatility, team orientation, dan responsiveness).

Materi-materi pelatihan ini tentu masih perlu dijabarkan dalam unit-unit kompetensi, dalam kurikulum dan silabus, dan dilaksanakan dengan dukungan nara sumber dan fasilitator yang kompeten, serta lingkungan pelatihan yang layak.

PROSES-PROSES UTAMA DALAM PELATIHAN

1. Rekrutmen

a.       Pendaftaran calon peserta pelatihan.

b.      Seleksi calon peserta pelatihan.

c.       Pengumuman hasil seleksi calon peserta pelatihan.

2. Verifikasi Kompetensi Peserta

a.       Pengumpulan dokumen-dokumen pendukung (dokumen pelatihan yang pernah diikuti, pengalaman kerja dan pengalaman lain yang relevan dengan unit kompetensi yang akan dilatih).

b.      Pelaksanaan verifikasi dokumen-dokumen pendukung terhadap unit kompetensi yangakan dilatih.

3. Keputusan Verifikasi

a.       Peserta pelatihan yang harus mengikuti PBK seluruh unit kompetensi (X).

b.      Peserta pelatihan yang telah menguasai sebagian unit kompetensi masuk proses RPL (Y).

4. Proses Pengakuan Hasil Belajar/ Recognition of Prior Learning (RPL)

a.       Wawancara/interview peserta pelatihan tentang kompetensi yang telah dikuasai sesuai dokumen pendukung yang ada.

b.      Untuk memastikan kompetensi yang dikuasai peserta pelatihan, bila perlu dibuktikanmelalui metode lain yang sesuai, antara lain tes tertulis, demonstrasi, dsb.

5. Keputusan RPL

a.       Dari hasil RPL, unit kompetensi yang dinyatakan belum memenuhi persyaratan, harus mengikuti proses PBK.

b.      Dari hasil RPL, unit kompetensi yang dinyatakan memenuhi persyaratan, langsung mengikuti asesmen (Z).

6. Pelaksanaan Pelatihan

Proses pelaksanaan pelatihan dimulai dengan :

a.       Menyiapkan program pelatihan sesuai dengan unit kompetensi yang ditetapkan;

b.      Menetapkan instruktur dan mentor;

b.      Menyediakan sarana dan fasilitas pelatihan off the job dan on the job;

c.       Menetapkan metode pelatihan yang dianggap paling tepat untuk bidang kompetensi tertentu;

d.      Memonitor pelaksanaan kegiatan pelatihan off dan on the job yang sedang dilaksanakan.

7. Assesment

a.       Melaksanakan assesment kepada peserta pelatihan sesuai dengan unit kompetensi yang ditentukan.

b.      Assesment dapat diikuti peserta pelatihan hasil dari keputusan RPL dan hasil dari proses pelatihan.

8. Keputusan Penilaian

a.       Peserta pelatihan yang dinyatakan memenuhi seluruh unjuk kerja yang dipersyaratkan, dinyatakan lulus.

b.      Peserta pelatihan yang dinyatakan tidak memenuhi seluruh/ sebagian unjuk kerja yangdipersyaratkan, diharuskan mengikuti proses pelatihan terhadap unjuk kerja yangdinyatakan belum lulus.

9. Sertifikat Pelatihan

a.       Peserta pelatihan yang dinyatakan lulus akan diberikan sertifikat pelatihan.

b.      Sertifikat pelatihan diterbitkan oleh lembaga penyelenggara pelatihan yangbersangkutan.

10. Dokumen

a.       Dokumen peserta pelatihan diarsipkan.

b.      Sertifikat peserta pelatihan teregistrasi di lembaga penyelenggara pelatihan.

11. Uji Kompetensi

a.       Peserta pelatihan yang dinyatakan lulus, direkomendasikan untuk mengikuti uji kompetensi.

b.      Uji kompetensi dilaksanakan oleh lembaga sertifikasi profesi.

B. Pelatihan Satpam Plus

Langkah-langkah pelatihan satpam plus agar berjalan efektif di antaranya :

1.      Memberikan orientasi bahwa fungsi satpam dewasa ini tidak hanya berfungsi sebagai tenaga pengamanan saja tetapi juga berperan sebagai tenaga pemasaran, sehingga satpam tidak hanya bersikap “garang” tetapi dituntut juga untuk bersikap ramah.

2.      Dengan adanya fungsi tambahan bagi satpam tersebut maka perlu dikenalkan dan dijelaskan kembali job deskripsi satpam yang baru sehingga masing-masing satpam dapat memahami tugasnya yang baru.

3.      Sebagai tenaga pemasaran tambahan, materi pelatihan yang perlu diberikan kepada satpam plus adalah pengenalan akan produk yang dijual perusahaan. Pengenalan produk ini dapat berupa macam-macam produk, fungsi, dan manfaat produk serta proses kerja perusahaan. Satpam juga bertindak sebagai front office dimana pelanggan sebelum masuk ke kantor tentu akan bertemu satpam terlebih dahulu sehingga proses kerja perusahaan juga perlu diketahui oleh satpam karena tidak menutup kemungkinan pelanggamn menanyakan hal-hal yang terkait dengan proses sebelum pembelian maupun proses setelah pembelian.

4.      Materi pelatihan yang berikutnya adalah mengenai perilaku baik itu meliputi gaya bicara maupun gerak tubuh sehingga akan menghasilkan satpam yang tidak hanya berfungsi sebagai tenaga pengamanan saja tetapi juga memiliki keramahan terhadap pelanggan.

5.      Untuk pelaksanaan pelatihan satpam dapat dilakukan dalam kelompok tersendiri dengan instruktur satpam senior (satpam plus) dari perusahaan lain dan dapat juga digabung dengan pelatihan sales pada saat pembahawan materi produk sehingga tenaga satpam kita juga dapat mengetahui produk-produk yang dipasarkan sekaligus merasakan atmosfer sebagai tenaga pemasar.

BBM DIJATAH MULAI HARI INI

Posted: 1 April 2011 in SOSIAL
Tags: , ,

Tepatnya hari ini, Jum’at  tanggal 01 April 2011 Pemerintah  telah menerapkan penjatahan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi kepada masyarakat.  Kritikan-kritikan  yang terlontar selama ini terhadap  polemik BBM bersubsidi ini sepertinya hanya sebatas angin lalu saja.

Merupakan langkah yang berat buat Pemerintah untuk membuat kebijakan seperti ini melihat kondisi  bangsa yang ada saat ini.  Pemerintah harus membatasi quota BBM kepada stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) dengan besaran volume tertentu dengan konsekuensi yang mau tidak mau harus diterima pemerintah  kedepan adalah adanya kemungkinan potensi keresahan sosial.

Demikian juga  SPBU sebagai  pendistribusi  BBM kepada  konsumen akan selalu menerima kritikan dan cercaan dari masyarakat ketika jatah/quota  BBM Subsidi tersebut tidak tersalur dengan baik ke masyarakat yang selayaknya harus menerima BBM bersubsidi tersebut .

Kiranya ada kebijakan lain yang memberikan kemudahan masyarakat memperoleh BBM dengan tidak  mengganggu volume realisasi BBM bersubsidi dalam  Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2011.


ANALISIS VALUASI EKONOMI MENGGUNAKAN TRAVEL COST METHOD DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI JUMLAH KUNJUNGAN KE HUTAN WISATA SUNGAI DUMAI

Iwan Victor Leonardo Sitindaon, SH, MH

Pendahuluan

Pelaksanaan otonomi daerah menimbulkan konsekwensi bertambahnya kewenangan pemerintah daerah sebagai akibat dari pelimpahan beberapa urusan yang semula oleh pemerintah pusat dan kemudian dialihkan kepada daerah. Salah satu contohnya adalah perubahan kewenangan dalam hal pengelolaan aset negara (Aset Pemerintah).

Upaya mewujudkan keberhasilan pelaksanaan pembangunan di suatu daerah sangat terkait erat dengan  kualitas perencanaan pembangunan daerah dalam upaya memanfaatkan serta mengelola sumber daya yang dimiliki, sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi. Sebagai daerah otonom Kota Dumai dituntut untuk dapat memiliki kemandirian terutama dalam hal menggali dan mengelola sumber-sumber keuangan daerah.

Kota Dumai yang dikenal sebagai Kota Pengantin (Perdagangan, Tourizem dan industri) memiliki letak geografis yang sangat strategis sebagai pintu gerbang Provinsi Riau bagian Utara yang memiliki aksesibilitas tinggi dengan negara tetangga Malaysia dan Singapura. Luas wilayahnya 1.727.385 km2, berdekatan dengan Selat Malaka .yang menjadi urat nadi perekonomian di era perdagangan bebas.

Oleh karena faktor geografis yang strategis tersebut, tidak sedikit wisatawan lokal maupun mancangera yang datang mengunjungi kota pengantin ini. Jumlah pengunjung lokal dan mancanegara untuk berekreasi ke kota Dumai pada tahun 2008, 2009 dan 2010 dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 1. Jumlah Kunjungan Wisatawan

Tahun 2008, 2009, 2010

JUMLAH KUNJUNGAN WISATAWAN MANCANEGARA  

PADA TAHUN

2008 2009 2010
15.206 12.641 14.338

Sumber : Dinas Pariwisata Kota Dumai

Para wisatawan tersebut mengunjungi beberapa objek wisata yang ditawarkan oleh Pemda Kota Dumai. Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Pariwisata Kota Dumai bahwa aset daerah berupa objek wisata yang ditawarkan oleh Pemerintah Daerah Kota Dumai dapat dikategorikan sebagai berikut :

Tabel 2. Jenis dan Nama Objek Wisata di Kota Dumai

NO

Jenis Wisata Nama Objek Wisata

2

3

4

5

Wisata Alam 

Wisata Sejarah

Wisata Agama

Wisata Olahraga

Wisata Tirta

Pantai Teluk Makmur 

Pantai Purnama

Hutan Wisata Sungai Dumai

Penangkaran Harimau Hutan Senepis

Kuala Sungai Dumai

Danau Buatan Putri Tujuh Pesanggrahan Putri Tujuh

Makam Siti Laut

Klenteng Hoch Liong Kiong

Masjid Raya Dumai

Lapangan Golf

 

Sumber : Dinas Pariwisata Kota Dumai

Hutan Wisata Sungai Dumai yang terletak di Jalan Soekarno Hatta Kecamatan Dumai Barat  yang merupakan salah satu aset Pemerintah Daerah Kota Dumai yang perlu dioptimalkan pengelolaannya (Hendry Fasial, 2006 : 54).

Hutan Wisata Sungai Dumai yang ditunjuk sebagai taman wisata alam berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Provinsi Riau Nomor SK.Gubernur KDH Tk.I Riau No.85/I/1985 tanggal 23 Januari 1985 dan ditetapkan melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor SK.Menhut No.154/Kpts-II/1990 tanggal 10 April 1990. Luas kawasan Hutan Wisata Sungai Dumai ini seluas 4.712, 50 Ha (Temu Gelang), 1˚31ˈ-1˚38ˈ LU dan 100˚31ˈ-101˚28ˈ BT. Terletak secara administrasi pemerintahan di Kota Dumai (Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Provinsi Riau BBKSDA : 2010).

Jumlah pengunjung yang datang ke lokasi objek rekreasi ini berdasarkan data yang diperoleh dari pengelola hutan wisata sungai dumai adalah :

Tabel 3  Jumlah Pengunjung Hutan Wisata Sungai Dumai

No Hari
Jumlah Pengunjung

2

3

Senin-Jumat 

Sabtu dan Minggu

Hari Libur Nasional

Antara     20-30 orang per hari 

Antara 150-250 orang per hari

Antara 500-700 orang per hari

Sumber : Pengelola Hutan Wisata Sungai Dumai

Dalam rangka peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pariwisata maka Pemerintah Kota Dumai berusaha mengoptimalkan potensi daerah khususnya dari obyek wisata yang merupakan aset daerah di wilayah Kota Dumai seperti  Hutan Wisata dan kawasan danau bunga tujuh yang jaraknya berdekatan dengan kawasan hutan wisata sungai kota dumai. Namun sebaliknya Hutan Wisata Sungai Kota Dumai karena kurang optimal dalam pengelolaannya mengakibatkan banyaknya fasilitas yang tersedia menjadi kurang terurus bahkan terbengkalai (Surat Kabar Harian Dumai Pos tanggal 24 Januari 2011, hal 4).

Sebagai salah satu aset daerah Kota Dumai, Hutan Wisata Sungai Dumai merupakan salah satau sumber daya alam yang memiliki nilai ekonomi apabila dikembangkan dengan baik. Oleh karena itu sangat penting untuk bisa mengetahui nilai ekonomi dari Hutan wisata Sungai Dumai.

Tempat rekreasi tidak memiliki nilai pasar yang pasti, maka penilaian tempat rekreasi dilakukan dengan pendekatan biaya perjalanan. Metode biaya perjalanan (travel cost method) ini dilakukan dengan menggunakan informasi  tentang  jumlah uang yang dikeluarkan dan waktu  yang digunakan untuk mencapai  tempat rekreasi untuk mengestimasi besarnya nilai  benefit dari  upaya perubahan kualitas lingkungan  dari tempat rekreasi yang  dikunjungi (Yakkin,1997 dalam Sahlan, 2008).

Bulov dan Lundgren (2007:1) menyebutkan bahwa jasa lingkungan seringkali tidak dihargai oleh pasar, sehingga kerap dinilai jauh di bawah nilai sesungguhnya dan dianggap sebagai sumber daya yang tidak layak dihargai sebagai aset. Pendekatan travel cost adalah suatu metode yang didasarkan pada survei atas biaya perjalanan responden sebagai dasar perhitungan atas kesediaan membayar (willingness to pay) ketika berkunjung ke suatu objek wisata.

Kesediaan membayar tersebut menjadi dasar untuk mengetahui permintaan terhadap hutan wisata. Besarnya permintaan (demand) inilah yang digunakan untuk menghitung nilai ekonomi jasa rekreasi hutan wisata sungai Dumai.

Masyarakat/konsumen  datang dari berbagai daerah untuk menghabiskan waktu di tempat rekreasi tentu akan mengeluarkan biaya perjalanan ke tempat rekreasi tersebut. Disini pendekatan biaya perjalanan mulai berfungsi. Karena makin jauh  tempat tinggal seseorang yang datang  memanfaatkan fasilitas  tempat rekreasi maka makin kurang harapan pemanfaatan atau permintaan tempat rekreasi  tersebut.

Metode biaya perjalanan ini mengkaji biaya yang dikeluarkan setiap individu untuk mendatangi tempat-tempat rekreasi. Misalnya, untuk menyalurkan hobi memancing, seorang konsumen akan mengorbankan biaya untuk mendatangi tempat tersebut. Dengan mengetahui pola pengeluaran dari konsumen ini,  dapat dikaji berapa nilai (value)  yang diberikan konsumen kepada sumber daya alam dan lingkungan.

Metode Biaya Perjalanan  (Travel Cost Method) ini dilakukan dengan menggunakan informasi tentang jumlah uang yang dikeluarkan untuk mencapai tempat rekreasi untuk mengestimasi besarnya nilai benefit dari upaya perubahan kualitas lingkungan dari tempat rekreasi yang dikunjungi.

Sampai saat ini pihak pengelola Hutan Wisata maupun pemerintah daerah kota Dumai belum mengetahui berapa besar nilai ekonomi dari Hutan Wisata Sungai Dumai ini dan  dari data serta fakta dilapangan diketahui bahwa jumlah pengunjung yang datang ke lokasi wisata ini bisa dikatakan relatif minim pengunjung.

Dengan melihat latar belakang masalah tersebut, maka dirumuskan suatu permasalahan yaitu berapakah estimasi nilai ekonomi Hutan Wisata Sungai Dumai yang diharapkan dapat menjadi acuan pihak Pemerintah Daerah Kota Dumai untuk menentukan besarnya anggaran pengelolaan aset sesuai nilai ekonominya sebagai salah satu aset publik yang dikunjungi masyarakat khususnya masyarakat Kota Dumai untuk pengembangan/optimalisasi lebih lanjut dimasa mendatang sehingga diperoleh pemasukan pendapatan asli daerah (PAD) dan mengidentifikasi faktor-faktor  yang mempengaruhi jumlah kunjungan ke Hutan Wisata Sungai Dumai sehingga berguna dalam optimalisasi pengelolaan aset dan pengembangan fasilitas selanjutnya.

Oleh karena itu diperlukan penelitian tentang valuasi ekonomi jasa rekreasi wisata alam yang bertujuan untuk mengestimasi nilai ekonomi (value economic) Hutan Wisata Sungai Dumai dengan pendekatan metode travel cost.

Pembahasan

A. Valuasi Ekonomi

Dalam menentukan kontribusi suatu sektor kegiatan ekonomi terhadap pembangunan nasional pada umumnya  dinyatakan dalam nilai uang yang kemudian dikonversi dalam nilai persentase. Setiap sektor kegiatan ekonomi pasti menghasilkan  produksi barang atau pun  jasa yang diukur secara fisik. Untuk menyatakan seluruh hasil barang dan jasa kemudian menyatakannya dalam satu nilai diperlukan valuasi ekonomi yang menyatakan semua produksi barang dan jasa  itu dalam nilai moneter.

Setelah Pemerintah daerah menginventarisasi dan memasukkan ke dalam database kepemilikan seluruh aset yang ada didaerah otonomnya, Pemerintah Daerah perlu mengetahui nilai ekonomi seluruh aset yang berada dalam kekuasaannya.

Pemerintah Daerah dalam hal mengelola hutan wisata sebagai salah satu sumber daya alam sangat perlu mengupayakan pemanfaatan secara optimal dan berkelanjutan (suistanableI) Untuk mencapai tujuan tersebut, kiranya Pemerintah Daerah perlu mengetahui manfaat sumber daya alam secara menyeluruh, baik manfaat yang tangible (nyata) maupun manfaat yang intangible (secara langsung tidak dapat dirasakan). Dimana kedua manfaat tersebut perlu pengelolaan yang baik agar memberikan kontribusi manfaat yang sebesar-besarnya bagi kemaslahatan masyarakat secara berkelanjutan sebagaimana yang diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar 1945.

Untuk mengejar ketinggalan dalam usaha pemanfaatan manfaat intangible sumber daya alam perlu suatu cara menilai manfaat intangible sumber daya alam khususnya manfaat rekreasi hutan wisata yang ditujukan untuk mendapatkan kurva permintaan masyarakat terhadap rekreasi sumber daya alam dalam hal ini Hutan Wisata Sungai Dumai.

B. Pendekatan Penilaian

Penilaian sumberdaya alam sangat kompleks, karena penilaian ini memang tidak semata-mata menilai besarnya nilai eksisting maupun nilai aset yang dikandungnya/yang melekat padanya (nilai potensi), tetapi juga meliputi nilai berapa besarnya kompensasi terhadap dampak kerusakan yang diakibatkan oleh eksplorasi dan eksploitasi sumberdaya alam sebagai kekayaan publik. Negara Indonesia mempunyai potensi yang cukup besar dalam hal sumberdaya alam. Mungkin hal ini yang banyak dilupakan oleh orang dalam menilai suatu aset sumberdaya alam.

Pasar dimana kekayaan publik itu berada yang meliputi lokasi dan pelayanan jasa yang mereka berikan langsung saling berkaitan. Misalnya dengan pasar real estat setempat. Observasi terhadap jumlah dan nilai dari suatu transaksi yang terjadi memberikan informasi tentang daya beli masyarakat untuk membeli tanah (properti) serta kuantitas perpindahan kepemilikan. Data pasar ini dapat memberikan kesimpulan tentang kurva  teknik penilaian yang menggunakan data pasar  (market based techniques) relatif mudah untuk diterapkan.  Teknik penilaian ini termasuk di dalamnya :

  • Metode harga pasar (the market price method);
  • Metode penilaian (the appraisal method);
  • Metode penggantian biaya (the replacement cost method).

Sedangkan apabila tidak cukup / tidak tersedia data pasar, penilaian dapat dilakukan dengan metode  penilaian yang tidak berbasis data pasar (nonmarket techniques) dengan cara menilai kesediaan perorangan untuk membayar (individual williingness to pay). Secara umum metode yang dikenal dalam teknik penilaian ini meliputi :

  • The Travel Cost Method;
  • The Hedonic Price Method;
  • The Contingent Valuation Method.

C. Penilaian Hutan Wisata

Secara umum, nilai ekonomi didefenisikan sebagai pengukuran jumlah maksimum seseorang ingin mengorbankan barang dan jasa untuk memperoleh barang dan jasa lainnya. Konsep ini disebut sebagai keinginan membayar (willingness to pay) seseorang terhadap barang dan jasa yang dihasilkan.

Dengan menggunakan pengukuran ini,  nilai ekologis ekosistem misalnya bisa “diterjemahkan” kedalam bahasa ekonomi dengan mengukur nilai moneter barang dan jasa. Keinginan membayar juga dapat diukur dalam bentuk kenaikan pendapatan yang menyebabkan seseorang berada dalam posisi indifferent terhadap perubahan exogenous. Perubahan exogenous ini bisa terjadi karena perubahan harga (misalnya akibat sumber daya makin langka) atau karena perubahan kualitas sumber daya. Konsep willingness to pay / WTP ini terkait erat dengan konsep Compensating Variation (CV) dan Equivalent Variation (EV) dalam teori permintaan. Jadi, WTP dapat juga diartikan sebagai jumlah maksimal seseorang mau membayar untuk menghindari terjadinya penurunan terhadap sesuatu.

Menurut Fauzi (2004), secara umum teknik valuasi ekonomi sumberdaya yang tidak dapat dipasarkan (non market valuation) dapat digolongkan ke dalam 2 (dua) kelompok. Kelompok pertama adalah teknik valuasi yang mengandalkan harga implisit dimana willingness to pay (WTP) terungkap melalui model yang dikembangkan. Teknik ini disebut teknik yang mengandalkan harga implisit dimana willingness to pay (WTP) terungkap melalui model yang dikembangkan. Teknik ini disebut teknik yang mengandalkan revealed WTP (keinginan untuk membayar yang terungkap). Beberapa teknik yang masuk kelompok ini adalah travel cost method, hedonic pricing, dan teknik random utility model.

D. Metode Biaya Perjalanan (Travel Cost Method)

Metode ini populer untuk menggambarkan permintaan untuk sumberdaya alam dan pelayanan jasa yang berkaitan dengan daerah rekreasi (recreational sites). Contohnya seperti daerah margasatwa, taman ekologi, pemancingan dan perburuan, panorama alam, dan lain-lain. Orang datang ke lokasi tersebut dari berbagai jarak yang berbeda.  Metode ini meneliti perilaku perjalanan (travel behavior) yang digunakan untuk mengevaluasi kesediaan orang untuk mengeluarkan uang dalam rangka mengunjungi wilayah tersebut. Secara intuitif bahwa atribut yang dimiliki oleh sumberdaya alam akan mempengaruhi kegunaan dari tapak tersebut. Perubahan kadar kunjungan akan merefleksikan perubahan dalam kualitas sumberdaya alam tersebut. Untuk itu kajian ini perlu dilakukan untuk dapat mengestimasi nilainya.

Dengan mengumpulkan informasi dari besarnya jumlah kunjungan terhadap sumberdaya alam yang ada, para analisis akan mengestimasi fungsi permintaan dari tapak yang berhubungan dengan kunjungan terhadap biaya yang timbul untuk setiap kunjungan. Jika informasi utama tidak bisa diperoleh secara lengkap, para analisis dapat mengelompokkan ke dalam zona sekitar lokasi tersebut. Kadar variasi kunjungan terhadap zona itulah yang akan digunakan untuk mengestimasi fungsi permintaan terhadap lokasi tersebut. Dengan kemajuan teknologi yang ada, pengumpulan data untuk metode  ini dapat diimplementasikan melalui telpon, website atau e-mail dan data registrasi. Dalam beberapa kasus, data juga bisa diperoleh dari pemerintah setempat, untuk mencari estimasi biaya perjalanan ke lokasi tersebut.

Metode biaya perjalanan mengasumsikan bahwa biaya perjalanan merefleksikan harga suatu tempat rekreasi. Menurut Fauzi (2004), metode biaya perjalanan digunakan untuk menganalisis permintaan terhadap rekreasi di alam terbuka seperti memancing, berburu, hiking dan lain-lain. Secara prinsip metode ini mengkaji biaya-biaya yang dikeluarkan setiap individu untuk mendatangi tempat-tempat rekreasi tersebut. Metode biaya ini dapat digunakan untuk mengatur manfaat dan biaya akibat (Fauzi; 2004) :

a.         Perubahan biaya akses (tiket) masuk bagi suatu tempat rekreasi

b.        Penambahan tempat rekreasi baru

c.         Perubahan kualitas lingkungan tempat rekreasi

d.        Pengunjung akan memberi respon yang sama terhadap perubahan harga karcis, dan jumlah biaya perjalanan

e.         Perjalanan tidak merupakan suatu kepuasan, kepuasan di tempat rekreasi sama untuk setiap pengunjung tanpa melihat asal pengunjung

f.         Setiap rekreasi alternatif mempunyai kepuasan maksimum

g.        Selera, preferensi dan pendapatan pengunjung dianggap sama

Travel Cost Method (TCM) diturunkan dari pemikiran yang dikembangkan oleh Hotteling pada tahun 1931, yang kemudian secara formal diperkenalkan oleh Wood dan Trice (1958) serta Clawson dan Knetsch (1996). Metode ini kebanyakan digunakan untuk menganalisis permintaan terhadap rekreasi di alam terbuka (outdoor recreation), seperti memancing, berburu, hiking dan sebagainya.

Secara prinsip metode ini mengkaji biaya yang dikeluarkan setiap individu untuk mendatangi tempat-tempat rekreasi. Misalnya, untuk menyalurkan hobi memancing, seorang konsumen akan mengorbankan biaya dalam bentuk waktu dan uang untuk mendatangi tempat tersebut. Dengan mengetahui pola pengeluaran dari konsumen ini, dapat dikaji berapa nilai (value) yang diberikan konsumen kepada sumber daya alam dan lingkungan.

Penelitian tentang valuasi ekonomi taman publik maupun hutan wisata telah banyak dilakukan baik di luar negeri maupun di dalam negeri.

Tabel 4  Penelitian Sebelumnya

Penulis/Tahun Lokasi Metode Variabel Hasil Penelitian
Nugroho (2008) hutan kota tipe rekreasi di Kebon Rojo, Blitar Travel Cost Method travel cost, pendapatan keluarga, persepsi kualitas, ada tidaknya tempat wisata lain (substitusi)

nilai ekonomi Kebon Rojo di Blitar berada dalam interval Rp6.983.297.635,- – Rp9.346.906.217,-.

Mayor dkk. (2007) hutan wisata di Irlandia Travel Cost Method dan Contingent Valuation Method biaya, preferensi dan data sosial ekonomis responden Nilai ekonomi yang diperoleh dari WTP adalah IR£1 per individu/ kunjungan, nilai ekonomi diperoleh dari TCM adalah IR£5.95 per individu/kunjungan
Bulov dan Lundgren (2007) Taman Nasional Periyar di India Travel Cost Method travel cost, pendapatan, umur, jenis kelamin, kebangsaan & substitusi Nilai surplus konsumen indvidu adalah US $36.178 sedangkan nilai ekonomi adalah US$15.145.633.766
Rahmawati dkk. (2006) Taman Hutan Raya Dr. Muhammad Hatta, Sumatera Barat Travel Cost Method asal pengunjung, jumlah penduduk, biaya perjalanan dan jumlah kunjungan dari tiap zonasi jumlah pengunjung per 1000 penduduk serta penerimaan hasil penjualan karcis pada berbagai tingkat harga karcis.
Paudel dkk. (2005) Elmer’s Island, New Orleans Travel Cost Method Jumlah pengunjung, biaya perjalanan Responden memberikan nilai WTP rata-rata 6,80 dollar AS sehingga fee yang diperoleh 96.685 dollar AS.
McKean dkk. (2005) Snake River, Idaho Travel Cost Method travel cost, travel time, free time available dan income nilai ekonomi sebesar 7.200.000 dollar AS per tahun
Djijono (2002) Taman Wisata Hutan Wan Abdul Rahman di Lampung Travel Cost Method biaya perjalanan, pendapatan, pendidikan nilai total surplus konsumen adalah Rp9.357.513,- per tahun.

 

Berdasarkan penelitian-penelitian sebelumnya yang menggunakan Travel Cost Method dengan variabel independent antara lain biaya perjalanan ke tempat wisata (travel cost), pendapatan (income), travel time, free time available, preferensi pengunjung, persepsi pengunjung terhadap kualitas obyek penelitian, ada tidaknya  substitusi atas obyek penelitian dan data sosial ekonomis responden (umur, jenis kelamin, kebangsaan, jumlah penduduk asal kecamatan pengunjung), maka Travel Cost Method dapat diterapkan untuk melakukan valuasi ekonomi terhadap hutan wisata, taman nasional, taman hutan raya, taman publik, area rekreasi terbuka maupun taman wisata hutan.

Metode ini mengkaji biaya yang dikeluarkan setiap individu untuk mendatangi tempat-tempat rekreasi untuk mengetahui pola expenditure dari konsumen sehingga peneliti bisa mengkaji berapa nilai (value) yang diberikan konsumen kepada sumber daya alam dan lingkungan. Dengan demikian Travel Cost Method sangat tepat diterapkan dalam penelitian untuk mengestimasi valuasi ekonomi Hutan  Wisata  Sungai Dumai dilihat dari sisi intangible aset.

Persamaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah dalam metode yang digunakan untuk menentukan nilai ekonomi rekreasi yaitu travel cost method. Namun demikian, ada beberapa perbedaan pada penelitian ini dibanding dengan penelitian sebelumnya.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

1.      Dalam melakukan valuasi ekonomi intangible aset Hutan Wisata dilakukan dengan pendekatan biaya perjalanan (travel cost method) yang menggambarkan permintaan untuk sumberdaya alam dan pelayanan jasa yang berkaitan dengan daerah rekreasi (recreational sites).

2.      Biaya perjalanan/travel cost, pendapatan, usia, substitusi, persepsi terhadap fasilitas sebagai variabel independent, merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah kunjungan ke lokasi Hutan Wisata Sungai Dumai. Variabel dependent dalam penelitian ini adalah jumlah kunjungan. Kedua variabel ini berguna dalam menentukan estimasi nilai ekonomi hutan wisata sungai dumai dengan pendekatan travel cost method.

Saran

Berdasarkan kesimpulan diatas, terdapat hal-hal yang disarankan yaitu :

1.      Dengan mengetahui estimasi nilai ekonomi dan faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah kunjungan ke Hutan Wisata Sungai Dumai, pihak pengelola harus meningkatkan daya saing dengan peningkatan kualitas dan kuantitas fasilitas objek wisata ini.

2.      Model dalam penelitian ini dapat dikembangkan untuk acuan penelitian berikutnya dengan kemungkinan memperluas variabel.


Masih ingat dengan hudson pada Indonesia mencari bakat? Hampir sama dengan Hudson, beberapa hari yang lalu pemirsa Thailand’s Get Talent dikejutkan oleh seorang laki-laki yang memiliki kepribadian wanita. Dia adalah Bell Nanthita yang kodratnya dilahirkan sebagai seorang laki-laki tetapi semasa hidupnya layaknya wanita tulent. Siapapun yang melihat fisik dari Bell ini pasti terkecoh dan beranggapan bahwa ia adalah sebagai seorang perempuan yang tulent padahal kenyataannya ia adalah seorang laki-laki.

Bell pun membawakan lagu itu dengan suara yang merdu sebagai seorang perempuan dan diakhiri dengan suara tenor sebagai seorang laki-laki. Jempol buat Bell, semoga menjadi the first thailand’s get talent in 2011.


BAB I

KAJIAN TEORI

1. FILSAFAT

Sebelum kita membahas lebih dalam mengenai ontologi, maka terlebih dahulu kita akan membahas filsafat sebagai pendahuluan. Terlebih dahulu kita harus mengerti apa arti filsafat atau berfilsafat. Berfilsafat berarti berendah hati mengevaluasi segenap pengetahuan yang telah kita ketahui. Sebagai ilustrasi seorang yang sedang berfilsafat adalah seseorang yang berdiri di suatu tempat dan memandang sekelilingnya, dia ingin menyimak kehadirannya dengan kesemestaan yang ditatapnya. Karakteristik berpikir filsafat yang pertama adalah sifat menyeluruh, yaitu ingin melihat hakikat ilmu hanya dari segi pandang ilmu itu sendiri. Karakteristik yang kedua adalah sifat mendasar, yaitu tidak lagi percaya begitu saja bahwa ilmu itu benar. Karakteristik yang ketiga adalah sifat spekulatif, yaitu semua pengetahuan yang sekarang ada dimulai dengan spekulasi dan dari sekumpulan spekulasi ini kita dapat memilih buah pikiran yang dapat diandalkan yang merupakan titik awal dari penjelajahan pengetahuan.

Pokok permasalahan yang dikaji filsafat mencakup tiga segi yakni apa yang disebut benar dan apa yang disebut salah (logika), mana yang dianggap baik dan mana yang dianggap buruk (etika) serta apa yang termasuk indah dan apa yang termasuk jelek (estetika).

Berikutnya kita akan membahas tentang ontologi. Beberapa contoh pertanyaan berikut ini akan membantu kita untuk mengerti apa yang dimaksud dengan ontologi. “Obyek apa yang ditelaah ilmu? Bagaimana ujud yang hakiki dari obyek tersebut? Bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap manusia (seperti berfikir, merasa dan mengindera) yang membuahkan pengetahuan?”. Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan landasan ontologis. Jadi untuk membedakan jenis pengetahuan yang satu dari pengetahuan-pengetahuan lainnya maka pertanyaan yang dapat diajukan adalah : Apa yang dikaji oleh pengetahuan itu (ontologi)? Bagaimana caranya mendapatkan pengetahuan tersebut (epistemologi)? Serta untuk apa pengetahuan tersebut dipergunakan (aksiologi)?.

 

2. FILSAFAT ILMU

Filsafat ilmu merupakan bagian dari epistemology (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengkaji hakikat ilmu (pengetahuan ilmiah). Sedangkan Ilmu merupakan cabang pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri tertentu. Menurut The Liang Gie (1999), filsafat ilmu adalah segenap pemikiran reflektif terhadap persoalan-persoalan mengenai segala hal yang menyangkut landasan ilmu maupun hubungan ilmu dengan segala segi dari kehidupan manusia. Filsafat ilmu merupakan suatu bidang pengetahuan campuran yang eksistensi dan pemekarannya bergantung pada hubungan timbal-balik  dan saling-pengaruh antara filsafat dan ilmu.

Sehubungan dengan pendapat tersebut bahwa filsafat ilmu merupakan penerusan pengembangan filsafat pengetahuan. Objek dari filsafat ilmu adalah ilmu pengetahuan. Oleh karena itu setiap saat ilmu itu berubah mengikuti perkembangan zaman dan keadaan tanpa meninggalkan pengetahuan lama. Pengetahuan lama tersebut akan menjadi pijakan untuk mencari pengetahuan baru. Hal ini senada dengan ungkapan dari Archie J.Bahm (1980)  bahwa ilmu pengetahuan (sebagai teori) adalah sesuatu yang selalu berubah.

Dalam perkembangannya filsafat ilmu mengarahkan pandangannya pada strategi pengembangan ilmu yang menyangkut etik dan heuristik. Bahkan sampai pada dimensi kebudayaan untuk menangkap tidak saja kegunaan atau kemanfaatan ilmu, tetapi juga arti maknanya bagi kehidupan manusia (Koento Wibisono dkk., 1997). Oleh karena itu, diperlukan perenungan kembali secara mendasar tentang hakekat dari ilmu pengetahuan itu bahkan hingga implikasinya ke bidang-bidang kajian lain seperti ilmu-ilmu kealaman.

Dengan demikian setiap perenungan yang mendasar, mau tidak mau mengantarkan kita untuk masuk ke dalam kawasan filsafat. Menurut Koento Wibisono (1984), filsafat dari sesuatu segi dapat didefinisikan sebagai ilmu yang berusaha untuk memahami hakekat dari sesuatu “ada” yang dijadikan objek sasarannya, sehingga filsafat ilmu pengetahuan yang merupakan salah satu cabang filsafat dengan sendirinya merupakan ilmu yang berusaha untuk memahami apakah hakekat ilmu pengetahuan itu sendiri.

Dengan memahami hakekat ilmu itu, menurut Poespoprodjo (dalam Koento Wibisono, 1984), dapatlah dipahami bahwa perspektif-perspektif ilmu, kemungkinan-kemungkinan pengembangannya, keterjalinannya antar ilmu, simplifikasi dan artifisialitas ilmu dan lain sebagainya, yang vital bagi penggarapan ilmu itu sendiri. Lebih dari itu, dikatakan bahwa dengan filsafat ilmu, kita akan didorong untuk memahami kekuatan serta keterbatasan metodenya, prasuposisi ilmunya, logika validasinya, struktur pemikiran ilmiah dalam konteks dengan realitas in conreto sedemikian rupa sehingga seorang ilmuwan dapat terhindar dari kecongkakan serta kerabunan intelektualnya.

3. ONTOLOGI

Ontologi merupakan salah satu kajian kefilsafatan yang paling kuno dan berasal dari Yunani. Studi tersebut mebahas keberadaan sesuatu yang bersifat konkret. Tokoh Yunani yang memiliki pandangan yang bersifat ontologis dikenal seperti Thales, Plato, dan Aristoteles Pada masanya, kebanyakan orang belum membedaan antara penampakan dengan kenyataan. Thales terkenal sebagai filsuf yang pernah sampai pada kesimpulan bahwa air merupakan substansi terdalam yang merupakan asal mula segala sesuatu. Namun yang lebih penting ialah pendiriannya bahwa mungkin sekali segala sesuatu itu berasal dari satu substansi belaka (sehingga sesuatu itu tidak bisa dianggap ada berdiri sendiri).

Hakekat kenyataan atau realitas memang bisa didekati ontologi dengan dua macam sudut pandang:

a.    Kuantitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan itu tunggal atau jamak?

b.    Kualitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan (realitas) tersebut memiliki kualitas tertentu, seperti misalnya daun yang memiliki warna kehijauan, bunga mawar yang berbau harum.

Secara sederhana ontologi bisa dirumuskan sebagai ilmu yang mempelajari realitas atau kenyataan konkret secara kritis.

Beberapa aliran dalam bidang ontologi, yakni realisme, naturalisme, empirisme. Istilah istilah terpenting yang terkait dengan ontologi adalah: yang-ada (being), kenyataan/realitas (reality), eksistensi (existence), esensi (essence),  substansi (substance), perubahan (change), tunggal (one), jamak (many).

Bahasan lain terkait dengan ontologi yaitu ontologi membahas tentang yang ada, yang tidak terikat oleh satu perwujudan tertentu. Ontologi membahas tentang yang ada yang universal, menampilkan pemikiran semesta universal. Ontologi berupaya mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan, atau dalam rumusan Lorens Bagus; menjelaskan yang ada yang meliputi semua realitas dalam semua bentuknya.

Lorens Bagus memperkenalkan tiga tingkatan abstraksi dalam ontologi, yaitu : abstraksi fisik, abstraksi bentuk, dan abstraksi metaphisik. Abstraksi fisik menampilkan keseluruhan sifat khas sesuatu objek; sedangkan abstraksi bentuk mendeskripsikan sifat umum yang menjadi cirri semua sesuatu yang sejenis. Abstraksi metaphisik mengetangahkan prinsip umum yang menjadi dasar dari semua realitas. Abstraksi yang dijangkau oleh ontologi adalah abstraksi metaphisik.

Sedangkan metode pembuktian dalam ontologi oleh Laurens Bagus di bedakan menjadi dua, yaitu : pembuktian a priori dan pembuktian a posteriori.

Pembuktian a priori disusun dengan meletakkan term tengah berada lebih dahulu dari predikat; dan pada kesimpulan term tengah menjadi sebab dari kebenaran kesimpulan.

Contoh :          Sesuatu yang bersifat lahirah itu fana            (Tt-P)

Badan itu sesuatu yang lahiri                          (S-Tt)

Jadi, badan itu fana’                                        (S-P)

 

Sedangkan pembuktian a posteriori secara ontologi, term tengah ada sesudah realitas kesimpulan; dan term tengah menunjukkan akibat realitas yang dinyatakan dalam kesimpulan hanya saja cara pembuktian a posterioris disusun dengan tata silogistik sebagai berikut:

Contoh :          Gigi geligi itu gigi geligi rahang dinasaurus    (Tt-S)

Gigi geligi itu gigi geligi pemakan tumbuhan              (Tt-P)

Jadi, Dinausaurus itu pemakan tumbuhan                 (S-P)

Bandingkan tata silogistik pembuktian a priori dengan a posteriori. Yang apriori di berangkatkan dari term tengah di hubungkan dengan predikat dan term tengah menjadi sebab dari kebenaran kesimpulan; sedangkan yang a posteriori di berangkatkan dari term tengah di hubungkan dengan subjek, term tengah menjadi akibat dari realitas dalam kesimpulan.

 

4. EPISTEMOLOGI

Epistemologi merupakan gabungan dua kalimat episteme, pengetahuan; dan logos, theory. Epistemologi adalah cabang ilmu filasafat yang menengarai masalah-masalah filosofikal yang mengitari teori ilmu pengetahuan.

Menurut Keith Lehrer (http://www.ditext.com/clay/lehrer) secara historis ada tiga perspektif dalam epistemology yang berkembang di Barat, yaitu: (1) Dogmatic Epistemology; (2) Critical Epistemology; dan (3) Scientific Epistemology.

a.    Dogmatic Epistemology: adalah pendekatan tradisional terhadap epistemology, terutama Plato. Dalam perspektif epistemology dogmatif, metaphysics (ontology) diasumsikan dulu ada, baru kemudian ditambahkan epistemology. Singkatnya, epistemology dogmatif menetapkan ontology sebelum epistemology.

b.    Critical Epistemology. Descartes membalik epistemology dogmatic dengan menanyakan apa yang dapat kita ketahui sebelum menjelaskannya. Pertanyakan dulu secara kritis, baru diyakini. Ragukan dulu bahwa sesuatu itu ada, kalau terbukti ada, baru dijelaskan. Berfikir dulu, baru yakini atau tidak. Ragukan dulu, baru yakini atau tidak. Descartes menganut the immediacy theses, bahwwa apa yang kita ketahui adalah terbatas pad ide-ide yang adalah jiwa kita (our own minds). Metode Descartes disebut juga metode skeptis. Yakni, skeptis bahwa kita dapat mengetahui secara langsung objek di luar diri kita tanpa melalui jiwa kita. Thesis ini dikembangkan oleh David Hume dengan teori primary qualities dan secondary qualities. Pertanyaan utama epsitemologi jenis ini: Apa yang dapat kita ketahui? Dapatkah kita mengetahuinya? Munkinkah kita dapat mengetahui sesuatu di luar diri kita? Singkatnya, epistemology kritis metapkan ontology setelah epistemology.

c.    Scientific Epistemology. Pertanyaan utama epsitemologi jenis ini: Apa yang benar-benar sudah kita ketahui dan bagaimana cara kita mengetahuinya? Epistemology ini tidak peduli apakah batu di depan mata kita adalah penampakan atau bukan. Yang ia urus adalah bahwa ada batu di depan mata kita dan kita teliti secara sainstifik.

5. AXIOLOGI

Axiologi berasal dari kata : Axios = Nilai (Value); Logi = Ilmu; Axiologi adalah ilmu yang mengkaji tentang nilai-nilai. Axiologi (teori tentang nilai) sebagai filsafat yang membahas apa kegunaan ilmu pengetahuan bagi manusia. Aksiologi menjawab, untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu di pergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral?

Dengan demikian Aksiologi adalah nilai-nilai (value) sebagai tolok ukur kebenaran (ilmiah), etik, dan moral sebagai dasar normative dalam penelitian dan penggalian, serta penerapan ilmu (Wibisono, 2001).


Panaskan 3 buah panci berisi air diatas api. Pada panci yang pertama, masukkan beberapa buah wortel. Pada panci yang kedua, masukkan beberapa buah telur. Pada panci yang ketiga, masukkan beberapa biji kopi yang sudah dihaluskan menjadi bubuk kopi.
Panaskan ketiga panci tersebut selama 15 menit kemudian keluarkan isi dari ketiga panci tersebut. Wortel yang sebelumnya keras, sekarang berubah menjadi empuk ; Telur yang sebelumnya lunak di bagian dalamnya, sekarang menjadi keras ; Bubuk kopi sudah menghilang. Tapi, air panas sudah berubah warnanya dan mempunyai bau kopi yang sangat harum.
Sekarang pikirkan tentang studi & pekerjaan Anda. Studi & pekerjaan itu tidak selamanya mudah, studi dan pekerjaan itu tidak selamanya nyaman. Bahkan kadang-kadang studi & pekerjaan menjadi sangat susah. Keadaan tidak berubah seperti yang kita inginkan.
Orang-orang tidak memperlakukan kita seperti yang kita harapkan dimana kita bekerja & belajar sangat keras, tapi kadang-kadang tidak mendapatkan hasil yang memuaskan. Apa yang terjadi pada saat kita menghadapi kesulitan?
Sekarang pikirkan tentang ketiga panci itu?
Air yang mendidih bagaikan masalah di pekerjaan kita.
Kita dapat menjadi seperti wortel. Kita maju dengan kuat & tegas, tetapi kita keluar dengan lemah dan lunak. Kita menjadi sangat lelah, kehilangan harapan & kita menyerah. Hilanglah semangat juang di diri kita. Karena itu Jangan mau menjadi wortel!!!
Kita dapat menjadi seperti telur. Kita memulai dengan hati yang tulus dan sensitif. Kita berakhir dengan sangat egois dan cuek. Terkadang kita membenci orang lain dan diri kita sendiri. Tidak ada lagi kehangatan di diri kita. Karena itu, Jangan mau menjadi telur!!!
Kita dapat menjadi Bubuk Kopi. Air tidak mengubah bubuk kopi tetapi Bubuk kopi yang mengubah air. Air menjadi berubah karena adanya bubuk kopi. Coba kita lihat, cium dan meminumnya. Makin PANAS airnya, makin ENAK rasanya.
Kita dapat menjadi Bubuk Kopi, karena :
 Kita membuat sesuatu yang baik dari tantangan yang kita hadapi.
 Kita belajar hal-hal baru.
 Kita mempunyai pengetahuan baru, ilmu baru dan skill baru
 Kita tumbuh bersama pengalaman
 Kita membuat dunia di sekeliling kita menjadi LEBIH BAIK

Untuk menjadi seseorang yang berhasil, kita harus mau dan mampu mencoba …. dan mencoba lagi dengan catatan :
 Kita harus percaya pada apa yang kita kerjakan.
 Kita tidak boleh menyerah.
 Kita harus sabar.
 Kita harus tetap bersemangat.
Masalah dan kesulitan memberi kesempatan kepada kita untuk menjadi lebih kuat… dan lebih baik… dan lebih mampu.
Karena itu : Jadilah seperti BIJI KOPI