HUT RI KE-66 & RAMADHAN 1432 H (MERDEKA YANG SESUNGGUHNYA)

Posted: 16 August 2010 in Tak Berkategori

Ada dua moment yang dapat ditarik benang merah pada bulan agustus ini. Bersempena dengan memperingati hari ulang tahun (HUT RI) yang ke-66 tahun, sebagian besar masyarakat bangsa ini juga sedang menjalankan ibadah suci Ramadhan 1432 H. Usia yang sudah cukup tua bagi sebuah bangsa yang telah bebas dari penjajahan kolonial.
Ibarat seorang manusia yang melalui fase-fase dalam hidupnya, usia 66 tahun merupakan fase dimana seseorang itu telah mengalami kematangan dalam segala sisi kehidupannya, seharusnya demikian pulalah bangsa ini. Sebuah bangsa yang seharusnya sudah bisa menunjukkan sebuah masyarakat yang adil dan makmur secara merata, merdeka dari jerat kemiskinan dan belenggu penindasan dan kekerasan, merdeka dari prilaku yang korup dan bebas dari pelanggaran HAM.
Namun fenomena yang terjadi adalah kita belum sampai kepada goal yang telah diamanatkan oleh UUD 1945 yaitu mencapai masyarakat yang adil dan sejahtera dimana kemerdekaan adalah seharusnya dalam segala aspek, termasuk aspek politik, sosial dan ekonomi.

Malah yang terjadi adalah penjajahan dalam bentuk meningginya harga kebutuhan pokok (sembako), teror ledakan gas elpiji konversi dari minyak tanah dan bentuk-bentuk penderitaan / penjajahan non kolonial lainnya.
Bersamaan dengan bertambahnya usia bangsa ini, umat muslim juga sedang melaksanakan ibadah suci ramadhan, bulan dimana umat muslim di seantero dunia ini berpuasa, yang semestinya menjadi bulan mawas diri bagi semua pihak (termasuk non muslim). Dimana esensi berpuasa adalah menaklukkan segala hawa nafsu yang ada pada diri kita.
Dengan ibadah puasa memberikan makna dan didikan bagi manusia untuk memiliki rasa empati kepada orang lain. Bukan hanya sekedar empati atau peka terhadap apa yang dirasakan oleh orang lain, tetapi lebih dari sebuah action untuk berbagi kekurangan kepada siapa saja yang kekurangan dan terabaikan secara sosial.
Bulan yang penuh berkah ini dapat menjadi momentum bagi semua pihak untuk mengintropeksi diri. Kemerdekaan yang hakiki hanya mungkin dicapai manakala kita berani untuk melawan hawa nafsu yang dapat merusak kemerdekaan itu sendiri.


Karena itu marilah kita memperbaharui diri, kalau kita tidak mentransformasi sikap kita menjadi seseorang yang merdeka, maka kita sama saja seperti seekor kupu-kupu yang bersikap dan bertingkah laku seperti seekor ulat. Yang terpenting dari semuanya adalah metamorfosa hati. Menjadi kupu-kupu sejati, bukan kupu-kupu yang bermental ulat atau kepompong. Pembaruan budi harus dinyatakan dalam pembaruan sikap dan gaya hidup sehari-hari.
Mudah-mudahan kemerdekaan bangsa ini mendapatkan keberkahan dari Yang Kuasa dan rakyatnya terbuka matanya untuk memahami makna hakiki dari kemerdekaan yaitu kemerdekaan dalam segala hal, dan pada akhirnya diri kita sendirilah yang menentukan arah kemana bangsa ini akan pergi dan posisi bangsa ini ketika berdiri dan bersanding sejajar serta mendapatkan kehormatan dari bangsa-bangsa lain karena budaya toleran dan saling menghargai yang merupakan fondasi utama karakter bangsa ini.
Berbahagialah mereka yang tidak hanya bermimpi tentang kemerdekaan saja tetapi yang berani mewujudkannya melalui sikap hidup yang benar.
Merdeka !

Comments are closed.