ANTARA KUALITAS & KUANTITAS KEIMANAN

Posted: 15 August 2010 in Tak Berkategori

Ibrani 11 : 1-3 “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Sebab oleh imanlah telah diberikan kesaksian kepada nenek moyang kita. Karena iman kita mengerti , bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat.”

Dalam kehidupan sehari-hari sebagian besar dari kita lebih mengutamakan kuantitas daripada kualitas dalam hal mengkonsumtif needs and goods (barang).Contohnya saja kebanyakan orang lebih banyak memilih untuk membeli handphone yang jauh lebih murah daripada membeli handphone yang memiliki manfaat dan nilai tambah (blackberry). Ya perhitungan ekonomisnya adalah bila membeli handphone blackberry harus membuang uang 2-4 jutaan, padahal kalau handphone yang biasa dengan modal dua juta saja sudah bisa membeli empat buah handphone misalnya. Mereka yang lebih mementingkan kuantitas terkadang kita lihat fenomena yang ada sering menggonta-ganti handphone karena rusak dan ketinggalan model. Orang seperti ini bisa juga dikatakan Lembiru (lempar beli baru).

Demikian juga kehidupan pribadi manusia, berdasarkan survei terhadap biodata/status yang ada di salah satu jejaring sosial (facebook), sebagian orang memberikan keterangan status sebagai HTS (Hubungan tanpa status), TTM (Teman tapi mesra) dan open in a relationship. Ilustrasi handphone diatas bisa disamakan persepsinya dengan keterangan status yang ada di facebook. Mengapa? Dengan memberikan keterangan seperti diatas terkandung makna bahwa orang-orang tersebut tidak memiliki kesungguhan hati untuk menjalin hubungan dengan pasangannya. Dalam arti lain orang tersebut sudah punya pacar, tetapi ia membuka peluang untuk menggonta-ganti pasangan dengan mencari pacar baru lewat dunia maya tersebut.

Demikian juga dengan iman seseorang, diharapkan memiliki kualitas daripada kuantitas. Kita lihat saja kisah Bapa Abraham. Dimana Abraham berpuluh-puluh tahun menunggu keturunan, tetapi ia sabar menunggu seperti janji Allah kepadanya. Bila dihitung secara kuantitatif panjangnya waktu kesabaran Bapa Abraham menunggu keturunan yang dijanjikan tersebut, apakah kita sanggup seperti itu? Fenomena yang ada hanyalah keluhan saja, dimana masih banyak orang yang baru tiga tahun belum memiliki keturunan sudah berobat kemana-mana dan selalu mengeluh pada Allah.

Dengan kesabaran dan keteguhan iman yang dimiliki Bapa Abraham, akhirnya Allah mengabulkan dan memberikan keturunan kepada Abraham yaitu Ishak. Tidak cukup sampai disitu, kembali keteguhan iman Abraham diuji dengan mengorbankan anaknya yang tunggal Ishak .

Roma 4 : 2 “Sebab jikalau Abraham dibenarkan karena perbuatannya, maka ia beroleh dasar untuk bermegah, tetapi tidak didepan Allah.”

Dari kisah bapa Abraham ini mengajak kita untuk lebih meningkatkan kualitas keimanan kita kepada Allah, bukan dari sisi kuantitasnya seperti Bapa Abraham diatas dengan kualitas keimanannya ia sabar menunggu dalam waktu yang cukup lama untuk mendapatkan keturunan dan mengorbankan anaknya ishak sebagai korban yang hidup bagi Allah.
Karena itu tingkatkan kualitas iman dan keyakinanmu agar dapat bertahan dan memberikan dampak bagi dunia ini. Layaknya Bapa Abraham yang setia dengan imannya menunggu dan mengorbankan ishak anaknya sehingga memberikan dampak pada keimanan umat kristiani di seantero dunia.

Comments are closed.