Epistemologi

Posted: 14 July 2010 in FILSAFAT

http://www.websitetester.biz/index.php?lang=en&ref=18ca23c5c99b04aad4397bb692dd8e13
EPISTEMOLOGI
Epistemologi, dari bahasa Yunani “episteme” (pengetahuan) dan “logos” (kata/pembicaraan/ilmu) adalah cabang filsafat yang berkaitan dengan asal, sifat, dan jenis pengetahuan.
Epistemologi atau Teori Pengetahuan berhubungan dengan hakikat dari ilmu pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dasar-dasarnya serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki oleh setiap manusia.
a. Dogma
Berasal dari bahasa Yunani, bentuk jamak dalam bahasa Yunani dan Inggris kadangkala dogmata adalah kepercayaan atau doktrin yang dipegang oleh sebuah agama atau organisasi yang sejenis untuk bisa lebih otoritatif. Contoh : Larangan dalam kitab suci yang diterima sebagai sebuah kebenaran tanpa bukti.
b. Beliefs/Keyakinan
Adalah suatu sikap yang ditunjukkan oleh manusia saat ia merasa cukup tahu dan menyimpulkan bahwa dirinya telah mencapai kebenaran. Karena keyakinan merupakan suatu sikap, maka keyakinan seseorang tidak selalu benar — atau, keyakinan semata bukanlah jaminan kebenaran. Contoh: Pada suatu masa, manusia pernah meyakini bahwa bumi merupakan pusat tata surya, belakangan disadari bahwa keyakinan itu keliru.
c. Misoteisme
Adalah “benci kepada Tuhan” atau “benci kepada dewa”
d. Empirisme
Adalah suatu aliran filsafat yang menyatakan bahwa semua pengetahuan berasal dari pengalaman. Empirisme menolak anggapan bahwa manusia telah membawa fitrah pengetahuan dalam dirinya ketika dilahirkan. Empirisme lahir di Inggris dengan 3 eksponennya adalah David Hume, George Berkeley dan John Locke.
e. Paradigma
Kata paradigma berasal dari abad pertengahan di Inggris yang merupakan kata serapan dari bahasa Latin ditahun 1483 yaitu “paradigm” yang berarti suatu model atau pola; bahasa Yunani “paradeigma” (para+deiknunai) yang berarti untuk “membandingkan”, “bersebelahan” (para) dan memperlihatkan (deik)
Paradigma dalam disiplin intelektual adalah cara pandang seseorang terhadap diri dan lingkungannya yang akan mempengaruhinya dalam berpikir (kognitif), bersikap (afektif), dan bertingkah laku (konatif). Paradigma juga dapat berarti seperangkat asumsi, konsep, nilai, dan praktek yang di terapkan dalam memandang realitas dalam sebuah komunitas yang sama, khususnya, dalam disiplin intelektual
f. Skeptisisme
Skeptisisme atau mempertanyakan, ketidakpercayaan (Yunani: “skeptomai”, dalam penggunaan umumnya adalah untuk melihat sekitar, untuk mempertimbangkan; jika dilihat dari kata perbedaan ejaan kata) merujuk kepada:
1. Suatu sikap keraguan atau disposisi untuk keraguan baik secara umum atau menuju objek tertentu;
2. Doktrin yang benar ilmu pengetahuan atau terdapat di wilayah tertentu belum pasti; atau
3. Metode ditangguhkan pertimbangan, keraguan sistematis, atau kritik yang karakteristik skeptis (Merriam-Webster).

2.1 FENOMENA DAN NOMENA
Fenomena berasal dari bahasa Yunani; “phainomenon”, apa yang terlihat, dalam bahasa Indonesia bisa berarti:
1. Gejala, misalkan gejala alam
2. Hal-hal yang dirasakan dengan panca indra
3. Hal-hal mistik atau klenik
4. Fakta, kenyataan, kejadian
Jadi fenomena adalah segala sesuatu yang bisa kita persepsi dengan panca indera.
Noumena adalah arti hakiki dari benda itu sendiri yang tidak dapat kita jelaskan dengan persepsi panca indera. Benda itu sendiri “The thing it self “yang satu, yang tetap, tidak berubah, yang benar hanya nomena yang menjadi objek ilmu yang benar. Noumena=Wahyu dalam bahasa filsafat=sebagai “Necessit”.
2.2 ANATOMI SAINS
Adalah suatu pengklasifikasian atau pengkategorian sains dalam bagian bagian yang lebih terperinci

2.2.1 Taksonomi
Dalam pendidikan, taksonomi dibuat untuk mengklasifikasikan tujuan pendidikan. Dalam hal ini, tujuan pendidikan dibagi menjadi beberapa domain, yaitu: kognitif, afektif, dan psikomotor. Dari setiap ranah tersebut dibagi kembali menjadi beberapa kategori dan subkategori yang berurutan secara hirarkis (bertingkat), mulai dari tingkah laku yang sederhana sampai tingkah laku yang paling kompleks. Tingkah laku dalam setiap tingkat diasumsikan menyertakan juga tingkah laku dari tingkat yang lebih rendah.

Tujuan pendidikan dibagi ke dalam tiga domain, yaitu:
a) Domain Kognitif (Ranah Kognitif), yang berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek intelektual, seperti pengetahuan, pengertian, dan keterampilan berpikir.
 Pengetahuan (Knowledge)
Berisikan kemampuan untuk mengenali dan mengingat peristilahan, definisi, fakta-fakta, gagasan, pola, urutan, metodologi, prinsip dasar, dsb. Sebagai contoh, ketika diminta menjelaskan manajemen kualitas, orang yg berada di level ini bisa menguraikan dengan baik definisi dari kualitas, karakteristik produk yang berkualitas, standar kualitas minimum untuk produk, dsb.
 Pemahaman (Comprehension)
Dikenali dari kemampuan untuk membaca dan memahami gambaran, laporan, tabel, diagram, arahan, peraturan, dsb. Sebagai contoh, orang di level ini bisa memahami apa yg diuraikan dalam fish bone diagram, pareto chart, dsb.
 Aplikasi (Application)
Di tingkat ini, seseorang memiliki kemampuan untuk menerapkan gagasan, prosedur, metode, rumus, teori, dsb di dalam kondisi kerja. Sebagai contoh, ketika diberi informasi tentang penyebab meningkatnya reject di produksi, seseorang yg berada di tingkat aplikasi akan mampu merangkum dan menggambarkan penyebab turunnya kualitas dalam bentuk fish bone diagram atau pareto chart.
 Analisis (Analysis)
Di tingkat analisis, seseorang akan mampu menganalisa informasi yang masuk dan membagi-bagi atau menstrukturkan informasi ke dalam bagian yang lebih kecil untuk mengenali pola atau hubungannya, dan mampu mengenali serta membedakan faktor penyebab dan akibat dari sebuah skenario yg rumit. Sebagai contoh, di level ini seseorang akan mampu memilah-milah penyebab meningkatnya reject, membanding-bandingkan tingkat keparahan dari setiap penyebab, dan menggolongkan setiap penyebab ke dalam tingkat keparahan yg ditimbulkan.
 Sintesis (Synthesis)
Satu tingkat di atas analisa, seseorang di tingkat sintesa akan mampu menjelaskan struktur atau pola dari sebuah skenario yang sebelumnya tidak terlihat, dan mampu mengenali data atau informasi yang harus didapat untuk menghasilkan solusi yg dibutuhkan. Sebagai contoh, di tingkat ini seorang manajer kualitas mampu memberikan solusi untuk menurunkan tingkat reject di produksi berdasarkan pengamatannya terhadap semua penyebab turunnya kualitas produk.
 Evaluasi (Evaluation)
Dikenali dari kemampuan untuk memberikan penilaian terhadap solusi, gagasan, metodologi, dsb dengan menggunakan kriteria yang cocok atau standar yg ada untuk memastikan nilai efektivitas atau manfaatnya. Sebagai contoh, di tingkat ini seorang manajer kualitas harus mampu menilai alternatif solusi yg sesuai untuk dijalankan berdasarkan efektivitas, urgensi, nilai manfaat, nilai ekonomis, dsb.
b) Domain Afektif (Ranah Afektif) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi, seperti minat, sikap, apresiasi, dan cara penyesuaian diri.
 Penerimaan (Receiving/Attending)
Kesediaan untuk menyadari adanya suatu fenomena di lingkungannya. Dalam pengajaran bentuknya berupa mendapatkan perhatian, mempertahankannya, dan mengarahkannya.
 Tanggapan (Responding)
Memberikan reaksi terhadap fenomena yang ada di lingkungannya. Meliputi persetujuan, kesediaan, dan kepuasan dalam memberikan tanggapan.
 Penghargaan (Valuing)
Berkaitan dengan harga atau nilai yang diterapkan pada suatu objek, fenomena, atau tingkah laku. Penilaian berdasar pada internalisasi dari serangkaian nilai tertentu yang diekspresikan ke dalam tingkah laku.
 Pengorganisasian (Organization)
Memadukan nilai-nilai yang berbeda, menyelesaikan konflik di antaranya, dan membentuk suatu sistem nilai yang konsisten.
 Karakterisasi Berdasarkan Nilai-nilai (Characterization by a Value or Value Complex)
Memiliki sistem nilai yang mengendalikan tingkah-lakunya sehingga menjadi karakteristik gaya-hidupnya.
c) Domain Psikomotor (Ranah Psikomotor) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek keterampilan motorik seperti tulisan tangan, mengetik, berenang, dan mengoperasikan mesin.
 Persepsi (Perception)
Penggunaan alat indera untuk menjadi pegangan dalam membantu gerakan.
 Kesiapan (Set)
Kesiapan fisik, mental, dan emosional untuk melakukan gerakan.
 Guided Response (Respon Terpimpin)
Tahap awal dalam mempelajari keterampilan yang kompleks, termasuk di dalamnya imitasi dan gerakan coba-coba.
 Mekanisme (Mechanism)
Membiasakan gerakan-gerakan yang telah dipelajari sehingga tampil dengan meyakinkan dan cakap.
 Respon Tampak yang Kompleks (Complex Overt Response)
Gerakan motoris yang terampil yang di dalamnya terdiri dari pola-pola gerakan yang kompleks.
 Penyesuaian (Adaptation)
Keterampilan yang sudah berkembang sehingga dapat disesuaikan dalam berbagai situasi.
 Penciptaan (Origination)
Membuat pola gerakan baru yang disesuaikan dengan situasi atau permasalahan tertentu.
2.2.2 Komparasi
Komparasi atau membandingkan/merangkai konsep konsep adalah melihat persamaan dari hal yang berbeda atau melihat hal yang berbeda dari yang sama.
Dalam agama, ini disebut “Qiyas”; karena sifat-sifatnya yang sama, zakat gandum (zaman Nabi Muhammad s.a.w.) diberlakukan dengan zakat padi (zaman sekarang di Indonesia).
2.2.3 Eksplanasi
Eksplanasi atau penjelasan adalah sebuah pencapaian derajat ke-tahu-an yang tinggi karena telah dapat menguraikan benang kusut permasalahan. Eksplanasi juga menjelaskan hubungan sebab akibat dari konsep konsep.

2.2.4 Deskripsi
Adalah upaya pengolahan data menjadi sesuatu yang dapat diutarakan secara jelas dan tepat dengan tujuan agar dapat dimengerti oleh orang yang tidak langsung mengalaminya sendiri.
Dalam keilmuan, deskripsi diperlukan agar peneliti tidak melupakan pengalamannya dan agar pengalaman tersebut dapat dibandingkan dengan pengalaman peneliti lain, sehingga mudah untuk dilakukan pemeriksaan dan kontrol terhadap deskripsi tersebut. Pada umumnya deskripsi menegaskan sesuatu, seperti apa sesuatu itu kelihatannya, bagaimana bunyinya, bagaimana rasanya, dan sebagainya. Deskripsi yang detail diciptakan dan dipakai dalam disiplin ilmu sebagai istilah teknik.
Eksplanasi sering dikenal dengan istilah penjelasan dalam setiap kajian ilmiah. Menurut D. H. Fischer, kata eksplanasi sendiri berasal dari “Explain” atau penjelasan; eksplanasi berarti membuat terang, jelas dan dapat dimengerti. Dalam eksplanasi data, fakta maupun fakta sejarah memegang peranan yang sangat penting. Data dan fakta ini berguna bagi pen-diskripsian kerangka wacana dalam eksplanasi.

2.3 ABSTRAKSI
Adalah proses atau hasil generalisasi dengan mengurangi informasi atau fenomena yang diamati, biasanya hanya untuk menyimpan informasi yang relevan untuk tujuan tertentu.
Dalam abstraksi tercakup beberapa hal penting yang tidak boleh terlewati yaitu :
Konsep, Variable dan Definisi
2.3.1 Konsep
Adalah sebuah ide yang di sederhanakan atau berasal dari hal hal yang spesifik. Teori konsep adalah teori representasi dari pikiran yang merupakan konsep representasi mental sedang teori semantik mengatakan bahwa ide itu adalah abstrak.
Konsep adalah hasil dari konseptulasi, dan konseptulasi timbul dari persepsi inderawi. Proses ini dimulai dengan fenomena alam semesta. Diawali dengan pengindraan fenomena lalu dipersepsi di dalam otak sehingga akhirnya timbul konsepsi dari fenomena tersebut di dalam otak. Merupakan sebuah kelemahan dalam hal ini adalah tidak adanya jaminan bahwa yang diindera benar-benar mencerminkan fenomena dari alam semesta
Variabel ialah konstruk-konstruk atau sifat-sifat yang sedang dipelajari. Contoh : jenis kelamin, kelas sosial, mobilitas pekerjaan dll nya.
Ada lima tipe variabel yang dikenal dalam penelitian, yaitu: variabel bebas (independent), variabel tergantung (dependent), variabel perantara (moderate), variabel pengganggu (intervening) dan variabel kontrol (control)
2.3.2 Variabel
Variabel adalah keragaman konsep konsep yang akan kita pelajari. Keragaman ini bisa bertingkat, berbeda, perbandingan atau pun hubungan sebab akibat. Semakin bervariasi konsep yang dipelajari maka akan semakin mendalam pengetahuan yang diperoleh.
Variabel adalah konsep yang mempunyai bermacam-macam nilai (Moh. Nazir). Dengan demikian, variabel adalah merupakan objek yang berbentuk apa saja yang ditentukan oleh peneliti dengan tujuan untuk memperoleh informasi agar bisa ditarik suatu kesimpulan.
2.3.3 Definisi
Definisi adalah penjelasan singkat, padat dan tepat tentang pokok pikiran yang dituangkan. Definisi bisa juga diartikan pengertian terhadap suatu konsep.
Dalam hal definisi ini kita harus membedakan dengan istilah, karena definisi bisa memiliki bermacam-macam istilah dan sebaliknya satu istilah juga bisa memiliki lebih dari satu pengertian.
EPISTEMOLOGI
Epistemologi, dari bahasa Yunani “episteme” (pengetahuan) dan “logos” (kata/pembicaraan/ilmu) adalah cabang filsafat yang berkaitan dengan asal, sifat, dan jenis pengetahuan.
Epistemologi atau Teori Pengetahuan berhubungan dengan hakikat dari ilmu pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dasar-dasarnya serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki oleh setiap manusia.
a. Dogma
Berasal dari bahasa Yunani, bentuk jamak dalam bahasa Yunani dan Inggris kadangkala dogmata adalah kepercayaan atau doktrin yang dipegang oleh sebuah agama atau organisasi yang sejenis untuk bisa lebih otoritatif. Contoh : Larangan dalam kitab suci yang diterima sebagai sebuah kebenaran tanpa bukti.
b. Beliefs/Keyakinan
Adalah suatu sikap yang ditunjukkan oleh manusia saat ia merasa cukup tahu dan menyimpulkan bahwa dirinya telah mencapai kebenaran. Karena keyakinan merupakan suatu sikap, maka keyakinan seseorang tidak selalu benar — atau, keyakinan semata bukanlah jaminan kebenaran. Contoh: Pada suatu masa, manusia pernah meyakini bahwa bumi merupakan pusat tata surya, belakangan disadari bahwa keyakinan itu keliru.
c. Misoteisme
Adalah “benci kepada Tuhan” atau “benci kepada dewa”
d. Empirisme
Adalah suatu aliran filsafat yang menyatakan bahwa semua pengetahuan berasal dari pengalaman. Empirisme menolak anggapan bahwa manusia telah membawa fitrah pengetahuan dalam dirinya ketika dilahirkan. Empirisme lahir di Inggris dengan 3 eksponennya adalah David Hume, George Berkeley dan John Locke.
e. Paradigma
Kata paradigma berasal dari abad pertengahan di Inggris yang merupakan kata serapan dari bahasa Latin ditahun 1483 yaitu “paradigm” yang berarti suatu model atau pola; bahasa Yunani “paradeigma” (para+deiknunai) yang berarti untuk “membandingkan”, “bersebelahan” (para) dan memperlihatkan (deik)
Paradigma dalam disiplin intelektual adalah cara pandang seseorang terhadap diri dan lingkungannya yang akan mempengaruhinya dalam berpikir (kognitif), bersikap (afektif), dan bertingkah laku (konatif). Paradigma juga dapat berarti seperangkat asumsi, konsep, nilai, dan praktek yang di terapkan dalam memandang realitas dalam sebuah komunitas yang sama, khususnya, dalam disiplin intelektual
f. Skeptisisme
Skeptisisme atau mempertanyakan, ketidakpercayaan (Yunani: “skeptomai”, dalam penggunaan umumnya adalah untuk melihat sekitar, untuk mempertimbangkan; jika dilihat dari kata perbedaan ejaan kata) merujuk kepada:
1. Suatu sikap keraguan atau disposisi untuk keraguan baik secara umum atau menuju objek tertentu;
2. Doktrin yang benar ilmu pengetahuan atau terdapat di wilayah tertentu belum pasti; atau
3. Metode ditangguhkan pertimbangan, keraguan sistematis, atau kritik yang karakteristik skeptis (Merriam-Webster).
2.1 FENOMENA DAN NOMENA
Fenomena berasal dari bahasa Yunani; “phainomenon”, apa yang terlihat, dalam bahasa Indonesia bisa berarti:
1. Gejala, misalkan gejala alam
2. Hal-hal yang dirasakan dengan panca indra
3. Hal-hal mistik atau klenik
4. Fakta, kenyataan, kejadian
Jadi fenomena adalah segala sesuatu yang bisa kita persepsi dengan panca indera.
Noumena adalah arti hakiki dari benda itu sendiri yang tidak dapat kita jelaskan dengan persepsi panca indera. Benda itu sendiri “The thing it self “yang satu, yang tetap, tidak berubah, yang benar hanya nomena yang menjadi objek ilmu yang benar. Noumena=Wahyu dalam bahasa filsafat=sebagai “Necessit”.
2.2 ANATOMI SAINS
Adalah suatu pengklasifikasian atau pengkategorian sains dalam bagian bagian yang lebih terperinci

2.2.1 Taksonomi
Dalam pendidikan, taksonomi dibuat untuk mengklasifikasikan tujuan pendidikan. Dalam hal ini, tujuan pendidikan dibagi menjadi beberapa domain, yaitu: kognitif, afektif, dan psikomotor. Dari setiap ranah tersebut dibagi kembali menjadi beberapa kategori dan subkategori yang berurutan secara hirarkis (bertingkat), mulai dari tingkah laku yang sederhana sampai tingkah laku yang paling kompleks. Tingkah laku dalam setiap tingkat diasumsikan menyertakan juga tingkah laku dari tingkat yang lebih rendah.
Tujuan pendidikan dibagi ke dalam tiga domain, yaitu:
a) Domain Kognitif (Ranah Kognitif), yang berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek intelektual, seperti pengetahuan, pengertian, dan keterampilan berpikir.
 Pengetahuan (Knowledge)
Berisikan kemampuan untuk mengenali dan mengingat peristilahan, definisi, fakta-fakta, gagasan, pola, urutan, metodologi, prinsip dasar, dsb. Sebagai contoh, ketika diminta menjelaskan manajemen kualitas, orang yg berada di level ini bisa menguraikan dengan baik definisi dari kualitas, karakteristik produk yang berkualitas, standar kualitas minimum untuk produk, dsb.
 Pemahaman (Comprehension)
Dikenali dari kemampuan untuk membaca dan memahami gambaran, laporan, tabel, diagram, arahan, peraturan, dsb. Sebagai contoh, orang di level ini bisa memahami apa yg diuraikan dalam fish bone diagram, pareto chart, dsb.
 Aplikasi (Application)
Di tingkat ini, seseorang memiliki kemampuan untuk menerapkan gagasan, prosedur, metode, rumus, teori, dsb di dalam kondisi kerja. Sebagai contoh, ketika diberi informasi tentang penyebab meningkatnya reject di produksi, seseorang yg berada di tingkat aplikasi akan mampu merangkum dan menggambarkan penyebab turunnya kualitas dalam bentuk fish bone diagram atau pareto chart.
 Analisis (Analysis)
Di tingkat analisis, seseorang akan mampu menganalisa informasi yang masuk dan membagi-bagi atau menstrukturkan informasi ke dalam bagian yang lebih kecil untuk mengenali pola atau hubungannya, dan mampu mengenali serta membedakan faktor penyebab dan akibat dari sebuah skenario yg rumit. Sebagai contoh, di level ini seseorang akan mampu memilah-milah penyebab meningkatnya reject, membanding-bandingkan tingkat keparahan dari setiap penyebab, dan menggolongkan setiap penyebab ke dalam tingkat keparahan yg ditimbulkan.
 Sintesis (Synthesis)
Satu tingkat di atas analisa, seseorang di tingkat sintesa akan mampu menjelaskan struktur atau pola dari sebuah skenario yang sebelumnya tidak terlihat, dan mampu mengenali data atau informasi yang harus didapat untuk menghasilkan solusi yg dibutuhkan. Sebagai contoh, di tingkat ini seorang manajer kualitas mampu memberikan solusi untuk menurunkan tingkat reject di produksi berdasarkan pengamatannya terhadap semua penyebab turunnya kualitas produk.
 Evaluasi (Evaluation)
Dikenali dari kemampuan untuk memberikan penilaian terhadap solusi, gagasan, metodologi, dsb dengan menggunakan kriteria yang cocok atau standar yg ada untuk memastikan nilai efektivitas atau manfaatnya. Sebagai contoh, di tingkat ini seorang manajer kualitas harus mampu menilai alternatif solusi yg sesuai untuk dijalankan berdasarkan efektivitas, urgensi, nilai manfaat, nilai ekonomis, dsb.
b) Domain Afektif (Ranah Afektif) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi, seperti minat, sikap, apresiasi, dan cara penyesuaian diri.
 Penerimaan (Receiving/Attending)
Kesediaan untuk menyadari adanya suatu fenomena di lingkungannya. Dalam pengajaran bentuknya berupa mendapatkan perhatian, mempertahankannya, dan mengarahkannya.
 Tanggapan (Responding)
Memberikan reaksi terhadap fenomena yang ada di lingkungannya. Meliputi persetujuan, kesediaan, dan kepuasan dalam memberikan tanggapan.
 Penghargaan (Valuing)
Berkaitan dengan harga atau nilai yang diterapkan pada suatu objek, fenomena, atau tingkah laku. Penilaian berdasar pada internalisasi dari serangkaian nilai tertentu yang diekspresikan ke dalam tingkah laku.
 Pengorganisasian (Organization)
Memadukan nilai-nilai yang berbeda, menyelesaikan konflik di antaranya, dan membentuk suatu sistem nilai yang konsisten.
 Karakterisasi Berdasarkan Nilai-nilai (Characterization by a Value or Value Complex)
Memiliki sistem nilai yang mengendalikan tingkah-lakunya sehingga menjadi karakteristik gaya-hidupnya.
c) Domain Psikomotor (Ranah Psikomotor) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek keterampilan motorik seperti tulisan tangan, mengetik, berenang, dan mengoperasikan mesin.
 Persepsi (Perception)
Penggunaan alat indera untuk menjadi pegangan dalam membantu gerakan.
 Kesiapan (Set)
Kesiapan fisik, mental, dan emosional untuk melakukan gerakan.
 Guided Response (Respon Terpimpin)
Tahap awal dalam mempelajari keterampilan yang kompleks, termasuk di dalamnya imitasi dan gerakan coba-coba.
 Mekanisme (Mechanism)
Membiasakan gerakan-gerakan yang telah dipelajari sehingga tampil dengan meyakinkan dan cakap.
 Respon Tampak yang Kompleks (Complex Overt Response)
Gerakan motoris yang terampil yang di dalamnya terdiri dari pola-pola gerakan yang kompleks.
 Penyesuaian (Adaptation)
Keterampilan yang sudah berkembang sehingga dapat disesuaikan dalam berbagai situasi.
 Penciptaan (Origination)
Membuat pola gerakan baru yang disesuaikan dengan situasi atau permasalahan tertentu.
2.2.2 Komparasi
Komparasi atau membandingkan/merangkai konsep konsep adalah melihat persamaan dari hal yang berbeda atau melihat hal yang berbeda dari yang sama.
Dalam agama, ini disebut “Qiyas”; karena sifat-sifatnya yang sama, zakat gandum (zaman Nabi Muhammad s.a.w.) diberlakukan dengan zakat padi (zaman sekarang di Indonesia).
2.2.3 Eksplanasi
Eksplanasi atau penjelasan adalah sebuah pencapaian derajat ke-tahu-an yang tinggi karena telah dapat menguraikan benang kusut permasalahan. Eksplanasi juga menjelaskan hubungan sebab akibat dari konsep konsep.

2.2.4 Deskripsi
Adalah upaya pengolahan data menjadi sesuatu yang dapat diutarakan secara jelas dan tepat dengan tujuan agar dapat dimengerti oleh orang yang tidak langsung mengalaminya sendiri.
Dalam keilmuan, deskripsi diperlukan agar peneliti tidak melupakan pengalamannya dan agar pengalaman tersebut dapat dibandingkan dengan pengalaman peneliti lain, sehingga mudah untuk dilakukan pemeriksaan dan kontrol terhadap deskripsi tersebut. Pada umumnya deskripsi menegaskan sesuatu, seperti apa sesuatu itu kelihatannya, bagaimana bunyinya, bagaimana rasanya, dan sebagainya. Deskripsi yang detail diciptakan dan dipakai dalam disiplin ilmu sebagai istilah teknik.
Eksplanasi sering dikenal dengan istilah penjelasan dalam setiap kajian ilmiah. Menurut D. H. Fischer, kata eksplanasi sendiri berasal dari “Explain” atau penjelasan; eksplanasi berarti membuat terang, jelas dan dapat dimengerti. Dalam eksplanasi data, fakta maupun fakta sejarah memegang peranan yang sangat penting. Data dan fakta ini berguna bagi pen-diskripsian kerangka wacana dalam eksplanasi.
2.3 ABSTRAKSI
Adalah proses atau hasil generalisasi dengan mengurangi informasi atau fenomena yang diamati, biasanya hanya untuk menyimpan informasi yang relevan untuk tujuan tertentu.
Dalam abstraksi tercakup beberapa hal penting yang tidak boleh terlewati yaitu :
Konsep, Variable dan Definisi
2.3.1 Konsep
Adalah sebuah ide yang di sederhanakan atau berasal dari hal hal yang spesifik. Teori konsep adalah teori representasi dari pikiran yang merupakan konsep representasi mental sedang teori semantik mengatakan bahwa ide itu adalah abstrak.
Konsep adalah hasil dari konseptulasi, dan konseptulasi timbul dari persepsi inderawi. Proses ini dimulai dengan fenomena alam semesta. Diawali dengan pengindraan fenomena lalu dipersepsi di dalam otak sehingga akhirnya timbul konsepsi dari fenomena tersebut di dalam otak. Merupakan sebuah kelemahan dalam hal ini adalah tidak adanya jaminan bahwa yang diindera benar-benar mencerminkan fenomena dari alam semesta
Variabel ialah konstruk-konstruk atau sifat-sifat yang sedang dipelajari. Contoh : jenis kelamin, kelas sosial, mobilitas pekerjaan dll nya.
Ada lima tipe variabel yang dikenal dalam penelitian, yaitu: variabel bebas (independent), variabel tergantung (dependent), variabel perantara (moderate), variabel pengganggu (intervening) dan variabel kontrol (control)
2.3.2 Variabel
Variabel adalah keragaman konsep konsep yang akan kita pelajari. Keragaman ini bisa bertingkat, berbeda, perbandingan atau pun hubungan sebab akibat. Semakin bervariasi konsep yang dipelajari maka akan semakin mendalam pengetahuan yang diperoleh.
Variabel adalah konsep yang mempunyai bermacam-macam nilai (Moh. Nazir). Dengan demikian, variabel adalah merupakan objek yang berbentuk apa saja yang ditentukan oleh peneliti dengan tujuan untuk memperoleh informasi agar bisa ditarik suatu kesimpulan.
2.3.3 Definisi
Definisi adalah penjelasan singkat, padat dan tepat tentang pokok pikiran yang dituangkan. Definisi bisa juga diartikan pengertian terhadap suatu konsep.
Dalam hal definisi ini kita harus membedakan dengan istilah, karena definisi bisa memiliki bermacam-macam istilah dan sebaliknya satu istilah juga bisa memiliki lebih dari satu pengertian.

EPISTEMOLOGI
Epistemologi, dari bahasa Yunani “episteme” (pengetahuan) dan “logos” (kata/pembicaraan/ilmu) adalah cabang filsafat yang berkaitan dengan asal, sifat, dan jenis pengetahuan.
Epistemologi atau Teori Pengetahuan berhubungan dengan hakikat dari ilmu pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dasar-dasarnya serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki oleh setiap manusia.
a. Dogma
Berasal dari bahasa Yunani, bentuk jamak dalam bahasa Yunani dan Inggris kadangkala dogmata adalah kepercayaan atau doktrin yang dipegang oleh sebuah agama atau organisasi yang sejenis untuk bisa lebih otoritatif. Contoh : Larangan dalam kitab suci yang diterima sebagai sebuah kebenaran tanpa bukti.
b. Beliefs/Keyakinan
Adalah suatu sikap yang ditunjukkan oleh manusia saat ia merasa cukup tahu dan menyimpulkan bahwa dirinya telah mencapai kebenaran. Karena keyakinan merupakan suatu sikap, maka keyakinan seseorang tidak selalu benar — atau, keyakinan semata bukanlah jaminan kebenaran. Contoh: Pada suatu masa, manusia pernah meyakini bahwa bumi merupakan pusat tata surya, belakangan disadari bahwa keyakinan itu keliru.
c. Misoteisme
Adalah “benci kepada Tuhan” atau “benci kepada dewa”
d. Empirisme
Adalah suatu aliran filsafat yang menyatakan bahwa semua pengetahuan berasal dari pengalaman. Empirisme menolak anggapan bahwa manusia telah membawa fitrah pengetahuan dalam dirinya ketika dilahirkan. Empirisme lahir di Inggris dengan 3 eksponennya adalah David Hume, George Berkeley dan John Locke.
e. Paradigma
Kata paradigma berasal dari abad pertengahan di Inggris yang merupakan kata serapan dari bahasa Latin ditahun 1483 yaitu “paradigm” yang berarti suatu model atau pola; bahasa Yunani “paradeigma” (para+deiknunai) yang berarti untuk “membandingkan”, “bersebelahan” (para) dan memperlihatkan (deik)
Paradigma dalam disiplin intelektual adalah cara pandang seseorang terhadap diri dan lingkungannya yang akan mempengaruhinya dalam berpikir (kognitif), bersikap (afektif), dan bertingkah laku (konatif). Paradigma juga dapat berarti seperangkat asumsi, konsep, nilai, dan praktek yang di terapkan dalam memandang realitas dalam sebuah komunitas yang sama, khususnya, dalam disiplin intelektual
f. Skeptisisme
Skeptisisme atau mempertanyakan, ketidakpercayaan (Yunani: “skeptomai”, dalam penggunaan umumnya adalah untuk melihat sekitar, untuk mempertimbangkan; jika dilihat dari kata perbedaan ejaan kata) merujuk kepada:
1. Suatu sikap keraguan atau disposisi untuk keraguan baik secara umum atau menuju objek tertentu;
2. Doktrin yang benar ilmu pengetahuan atau terdapat di wilayah tertentu belum pasti; atau
3. Metode ditangguhkan pertimbangan, keraguan sistematis, atau kritik yang karakteristik skeptis (Merriam-Webster).
2.1 FENOMENA DAN NOMENA
Fenomena berasal dari bahasa Yunani; “phainomenon”, apa yang terlihat, dalam bahasa Indonesia bisa berarti:
1. Gejala, misalkan gejala alam
2. Hal-hal yang dirasakan dengan panca indra
3. Hal-hal mistik atau klenik
4. Fakta, kenyataan, kejadian
Jadi fenomena adalah segala sesuatu yang bisa kita persepsi dengan panca indera.
Noumena adalah arti hakiki dari benda itu sendiri yang tidak dapat kita jelaskan dengan persepsi panca indera. Benda itu sendiri “The thing it self “yang satu, yang tetap, tidak berubah, yang benar hanya nomena yang menjadi objek ilmu yang benar. Noumena=Wahyu dalam bahasa filsafat=sebagai “Necessit”.
2.2 ANATOMI SAINS
Adalah suatu pengklasifikasian atau pengkategorian sains dalam bagian bagian yang lebih terperinci

2.2.1 Taksonomi
Dalam pendidikan, taksonomi dibuat untuk mengklasifikasikan tujuan pendidikan. Dalam hal ini, tujuan pendidikan dibagi menjadi beberapa domain, yaitu: kognitif, afektif, dan psikomotor. Dari setiap ranah tersebut dibagi kembali menjadi beberapa kategori dan subkategori yang berurutan secara hirarkis (bertingkat), mulai dari tingkah laku yang sederhana sampai tingkah laku yang paling kompleks. Tingkah laku dalam setiap tingkat diasumsikan menyertakan juga tingkah laku dari tingkat yang lebih rendah.
Tujuan pendidikan dibagi ke dalam tiga domain, yaitu:
a) Domain Kognitif (Ranah Kognitif), yang berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek intelektual, seperti pengetahuan, pengertian, dan keterampilan berpikir.
 Pengetahuan (Knowledge)
Berisikan kemampuan untuk mengenali dan mengingat peristilahan, definisi, fakta-fakta, gagasan, pola, urutan, metodologi, prinsip dasar, dsb. Sebagai contoh, ketika diminta menjelaskan manajemen kualitas, orang yg berada di level ini bisa menguraikan dengan baik definisi dari kualitas, karakteristik produk yang berkualitas, standar kualitas minimum untuk produk, dsb.
 Pemahaman (Comprehension)
Dikenali dari kemampuan untuk membaca dan memahami gambaran, laporan, tabel, diagram, arahan, peraturan, dsb. Sebagai contoh, orang di level ini bisa memahami apa yg diuraikan dalam fish bone diagram, pareto chart, dsb.
 Aplikasi (Application)
Di tingkat ini, seseorang memiliki kemampuan untuk menerapkan gagasan, prosedur, metode, rumus, teori, dsb di dalam kondisi kerja. Sebagai contoh, ketika diberi informasi tentang penyebab meningkatnya reject di produksi, seseorang yg berada di tingkat aplikasi akan mampu merangkum dan menggambarkan penyebab turunnya kualitas dalam bentuk fish bone diagram atau pareto chart.
 Analisis (Analysis)
Di tingkat analisis, seseorang akan mampu menganalisa informasi yang masuk dan membagi-bagi atau menstrukturkan informasi ke dalam bagian yang lebih kecil untuk mengenali pola atau hubungannya, dan mampu mengenali serta membedakan faktor penyebab dan akibat dari sebuah skenario yg rumit. Sebagai contoh, di level ini seseorang akan mampu memilah-milah penyebab meningkatnya reject, membanding-bandingkan tingkat keparahan dari setiap penyebab, dan menggolongkan setiap penyebab ke dalam tingkat keparahan yg ditimbulkan.
 Sintesis (Synthesis)
Satu tingkat di atas analisa, seseorang di tingkat sintesa akan mampu menjelaskan struktur atau pola dari sebuah skenario yang sebelumnya tidak terlihat, dan mampu mengenali data atau informasi yang harus didapat untuk menghasilkan solusi yg dibutuhkan. Sebagai contoh, di tingkat ini seorang manajer kualitas mampu memberikan solusi untuk menurunkan tingkat reject di produksi berdasarkan pengamatannya terhadap semua penyebab turunnya kualitas produk.
 Evaluasi (Evaluation)
Dikenali dari kemampuan untuk memberikan penilaian terhadap solusi, gagasan, metodologi, dsb dengan menggunakan kriteria yang cocok atau standar yg ada untuk memastikan nilai efektivitas atau manfaatnya. Sebagai contoh, di tingkat ini seorang manajer kualitas harus mampu menilai alternatif solusi yg sesuai untuk dijalankan berdasarkan efektivitas, urgensi, nilai manfaat, nilai ekonomis, dsb.
b) Domain Afektif (Ranah Afektif) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi, seperti minat, sikap, apresiasi, dan cara penyesuaian diri.
 Penerimaan (Receiving/Attending)
Kesediaan untuk menyadari adanya suatu fenomena di lingkungannya. Dalam pengajaran bentuknya berupa mendapatkan perhatian, mempertahankannya, dan mengarahkannya.
 Tanggapan (Responding)
Memberikan reaksi terhadap fenomena yang ada di lingkungannya. Meliputi persetujuan, kesediaan, dan kepuasan dalam memberikan tanggapan.
 Penghargaan (Valuing)
Berkaitan dengan harga atau nilai yang diterapkan pada suatu objek, fenomena, atau tingkah laku. Penilaian berdasar pada internalisasi dari serangkaian nilai tertentu yang diekspresikan ke dalam tingkah laku.
 Pengorganisasian (Organization)
Memadukan nilai-nilai yang berbeda, menyelesaikan konflik di antaranya, dan membentuk suatu sistem nilai yang konsisten.
 Karakterisasi Berdasarkan Nilai-nilai (Characterization by a Value or Value Complex)
Memiliki sistem nilai yang mengendalikan tingkah-lakunya sehingga menjadi karakteristik gaya-hidupnya.
c) Domain Psikomotor (Ranah Psikomotor) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek keterampilan motorik seperti tulisan tangan, mengetik, berenang, dan mengoperasikan mesin.
 Persepsi (Perception)
Penggunaan alat indera untuk menjadi pegangan dalam membantu gerakan.
 Kesiapan (Set)
Kesiapan fisik, mental, dan emosional untuk melakukan gerakan.
 Guided Response (Respon Terpimpin)
Tahap awal dalam mempelajari keterampilan yang kompleks, termasuk di dalamnya imitasi dan gerakan coba-coba.
 Mekanisme (Mechanism)
Membiasakan gerakan-gerakan yang telah dipelajari sehingga tampil dengan meyakinkan dan cakap.
 Respon Tampak yang Kompleks (Complex Overt Response)
Gerakan motoris yang terampil yang di dalamnya terdiri dari pola-pola gerakan yang kompleks.
 Penyesuaian (Adaptation)
Keterampilan yang sudah berkembang sehingga dapat disesuaikan dalam berbagai situasi.
 Penciptaan (Origination)
Membuat pola gerakan baru yang disesuaikan dengan situasi atau permasalahan tertentu.
2.2.2 Komparasi
Komparasi atau membandingkan/merangkai konsep konsep adalah melihat persamaan dari hal yang berbeda atau melihat hal yang berbeda dari yang sama.
Dalam agama, ini disebut “Qiyas”; karena sifat-sifatnya yang sama, zakat gandum (zaman Nabi Muhammad s.a.w.) diberlakukan dengan zakat padi (zaman sekarang di Indonesia).
2.2.3 Eksplanasi
Eksplanasi atau penjelasan adalah sebuah pencapaian derajat ke-tahu-an yang tinggi karena telah dapat menguraikan benang kusut permasalahan. Eksplanasi juga menjelaskan hubungan sebab akibat dari konsep konsep.

2.2.4 Deskripsi
Adalah upaya pengolahan data menjadi sesuatu yang dapat diutarakan secara jelas dan tepat dengan tujuan agar dapat dimengerti oleh orang yang tidak langsung mengalaminya sendiri.
Dalam keilmuan, deskripsi diperlukan agar peneliti tidak melupakan pengalamannya dan agar pengalaman tersebut dapat dibandingkan dengan pengalaman peneliti lain, sehingga mudah untuk dilakukan pemeriksaan dan kontrol terhadap deskripsi tersebut. Pada umumnya deskripsi menegaskan sesuatu, seperti apa sesuatu itu kelihatannya, bagaimana bunyinya, bagaimana rasanya, dan sebagainya. Deskripsi yang detail diciptakan dan dipakai dalam disiplin ilmu sebagai istilah teknik.
Eksplanasi sering dikenal dengan istilah penjelasan dalam setiap kajian ilmiah. Menurut D. H. Fischer, kata eksplanasi sendiri berasal dari “Explain” atau penjelasan; eksplanasi berarti membuat terang, jelas dan dapat dimengerti. Dalam eksplanasi data, fakta maupun fakta sejarah memegang peranan yang sangat penting. Data dan fakta ini berguna bagi pen-diskripsian kerangka wacana dalam eksplanasi.
2.3 ABSTRAKSI
Adalah proses atau hasil generalisasi dengan mengurangi informasi atau fenomena yang diamati, biasanya hanya untuk menyimpan informasi yang relevan untuk tujuan tertentu.
Dalam abstraksi tercakup beberapa hal penting yang tidak boleh terlewati yaitu :
Konsep, Variable dan Definisi
2.3.1 Konsep
Adalah sebuah ide yang di sederhanakan atau berasal dari hal hal yang spesifik. Teori konsep adalah teori representasi dari pikiran yang merupakan konsep representasi mental sedang teori semantik mengatakan bahwa ide itu adalah abstrak.
Konsep adalah hasil dari konseptulasi, dan konseptulasi timbul dari persepsi inderawi. Proses ini dimulai dengan fenomena alam semesta. Diawali dengan pengindraan fenomena lalu dipersepsi di dalam otak sehingga akhirnya timbul konsepsi dari fenomena tersebut di dalam otak. Merupakan sebuah kelemahan dalam hal ini adalah tidak adanya jaminan bahwa yang diindera benar-benar mencerminkan fenomena dari alam semesta
Variabel ialah konstruk-konstruk atau sifat-sifat yang sedang dipelajari. Contoh : jenis kelamin, kelas sosial, mobilitas pekerjaan dll nya.
Ada lima tipe variabel yang dikenal dalam penelitian, yaitu: variabel bebas (independent), variabel tergantung (dependent), variabel perantara (moderate), variabel pengganggu (intervening) dan variabel kontrol (control)
2.3.2 Variabel
Variabel adalah keragaman konsep konsep yang akan kita pelajari. Keragaman ini bisa bertingkat, berbeda, perbandingan atau pun hubungan sebab akibat. Semakin bervariasi konsep yang dipelajari maka akan semakin mendalam pengetahuan yang diperoleh.
Variabel adalah konsep yang mempunyai bermacam-macam nilai (Moh. Nazir). Dengan demikian, variabel adalah merupakan objek yang berbentuk apa saja yang ditentukan oleh peneliti dengan tujuan untuk memperoleh informasi agar bisa ditarik suatu kesimpulan.
2.3.3 Definisi
Definisi adalah penjelasan singkat, padat dan tepat tentang pokok pikiran yang dituangkan. Definisi bisa juga diartikan pengertian terhadap suatu konsep.
Dalam hal definisi ini kita harus membedakan dengan istilah, karena definisi bisa memiliki bermacam-macam istilah dan sebaliknya satu istilah juga bisa memiliki lebih dari satu pengertian.

Comments are closed.