ONTOLOGI, EPISTEMOLOGI DAN AXIOLOGI

Posted: 16 March 2011 in FILSAFAT
Tags: , , ,

BAB I

KAJIAN TEORI

1. FILSAFAT

Sebelum kita membahas lebih dalam mengenai ontologi, maka terlebih dahulu kita akan membahas filsafat sebagai pendahuluan. Terlebih dahulu kita harus mengerti apa arti filsafat atau berfilsafat. Berfilsafat berarti berendah hati mengevaluasi segenap pengetahuan yang telah kita ketahui. Sebagai ilustrasi seorang yang sedang berfilsafat adalah seseorang yang berdiri di suatu tempat dan memandang sekelilingnya, dia ingin menyimak kehadirannya dengan kesemestaan yang ditatapnya. Karakteristik berpikir filsafat yang pertama adalah sifat menyeluruh, yaitu ingin melihat hakikat ilmu hanya dari segi pandang ilmu itu sendiri. Karakteristik yang kedua adalah sifat mendasar, yaitu tidak lagi percaya begitu saja bahwa ilmu itu benar. Karakteristik yang ketiga adalah sifat spekulatif, yaitu semua pengetahuan yang sekarang ada dimulai dengan spekulasi dan dari sekumpulan spekulasi ini kita dapat memilih buah pikiran yang dapat diandalkan yang merupakan titik awal dari penjelajahan pengetahuan.

Pokok permasalahan yang dikaji filsafat mencakup tiga segi yakni apa yang disebut benar dan apa yang disebut salah (logika), mana yang dianggap baik dan mana yang dianggap buruk (etika) serta apa yang termasuk indah dan apa yang termasuk jelek (estetika).

Berikutnya kita akan membahas tentang ontologi. Beberapa contoh pertanyaan berikut ini akan membantu kita untuk mengerti apa yang dimaksud dengan ontologi. “Obyek apa yang ditelaah ilmu? Bagaimana ujud yang hakiki dari obyek tersebut? Bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap manusia (seperti berfikir, merasa dan mengindera) yang membuahkan pengetahuan?”. Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan landasan ontologis. Jadi untuk membedakan jenis pengetahuan yang satu dari pengetahuan-pengetahuan lainnya maka pertanyaan yang dapat diajukan adalah : Apa yang dikaji oleh pengetahuan itu (ontologi)? Bagaimana caranya mendapatkan pengetahuan tersebut (epistemologi)? Serta untuk apa pengetahuan tersebut dipergunakan (aksiologi)?.

 

2. FILSAFAT ILMU

Filsafat ilmu merupakan bagian dari epistemology (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengkaji hakikat ilmu (pengetahuan ilmiah). Sedangkan Ilmu merupakan cabang pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri tertentu. Menurut The Liang Gie (1999), filsafat ilmu adalah segenap pemikiran reflektif terhadap persoalan-persoalan mengenai segala hal yang menyangkut landasan ilmu maupun hubungan ilmu dengan segala segi dari kehidupan manusia. Filsafat ilmu merupakan suatu bidang pengetahuan campuran yang eksistensi dan pemekarannya bergantung pada hubungan timbal-balik  dan saling-pengaruh antara filsafat dan ilmu.

Sehubungan dengan pendapat tersebut bahwa filsafat ilmu merupakan penerusan pengembangan filsafat pengetahuan. Objek dari filsafat ilmu adalah ilmu pengetahuan. Oleh karena itu setiap saat ilmu itu berubah mengikuti perkembangan zaman dan keadaan tanpa meninggalkan pengetahuan lama. Pengetahuan lama tersebut akan menjadi pijakan untuk mencari pengetahuan baru. Hal ini senada dengan ungkapan dari Archie J.Bahm (1980)  bahwa ilmu pengetahuan (sebagai teori) adalah sesuatu yang selalu berubah.

Dalam perkembangannya filsafat ilmu mengarahkan pandangannya pada strategi pengembangan ilmu yang menyangkut etik dan heuristik. Bahkan sampai pada dimensi kebudayaan untuk menangkap tidak saja kegunaan atau kemanfaatan ilmu, tetapi juga arti maknanya bagi kehidupan manusia (Koento Wibisono dkk., 1997). Oleh karena itu, diperlukan perenungan kembali secara mendasar tentang hakekat dari ilmu pengetahuan itu bahkan hingga implikasinya ke bidang-bidang kajian lain seperti ilmu-ilmu kealaman.

Dengan demikian setiap perenungan yang mendasar, mau tidak mau mengantarkan kita untuk masuk ke dalam kawasan filsafat. Menurut Koento Wibisono (1984), filsafat dari sesuatu segi dapat didefinisikan sebagai ilmu yang berusaha untuk memahami hakekat dari sesuatu “ada” yang dijadikan objek sasarannya, sehingga filsafat ilmu pengetahuan yang merupakan salah satu cabang filsafat dengan sendirinya merupakan ilmu yang berusaha untuk memahami apakah hakekat ilmu pengetahuan itu sendiri.

Dengan memahami hakekat ilmu itu, menurut Poespoprodjo (dalam Koento Wibisono, 1984), dapatlah dipahami bahwa perspektif-perspektif ilmu, kemungkinan-kemungkinan pengembangannya, keterjalinannya antar ilmu, simplifikasi dan artifisialitas ilmu dan lain sebagainya, yang vital bagi penggarapan ilmu itu sendiri. Lebih dari itu, dikatakan bahwa dengan filsafat ilmu, kita akan didorong untuk memahami kekuatan serta keterbatasan metodenya, prasuposisi ilmunya, logika validasinya, struktur pemikiran ilmiah dalam konteks dengan realitas in conreto sedemikian rupa sehingga seorang ilmuwan dapat terhindar dari kecongkakan serta kerabunan intelektualnya.

3. ONTOLOGI

Ontologi merupakan salah satu kajian kefilsafatan yang paling kuno dan berasal dari Yunani. Studi tersebut mebahas keberadaan sesuatu yang bersifat konkret. Tokoh Yunani yang memiliki pandangan yang bersifat ontologis dikenal seperti Thales, Plato, dan Aristoteles Pada masanya, kebanyakan orang belum membedaan antara penampakan dengan kenyataan. Thales terkenal sebagai filsuf yang pernah sampai pada kesimpulan bahwa air merupakan substansi terdalam yang merupakan asal mula segala sesuatu. Namun yang lebih penting ialah pendiriannya bahwa mungkin sekali segala sesuatu itu berasal dari satu substansi belaka (sehingga sesuatu itu tidak bisa dianggap ada berdiri sendiri).

Hakekat kenyataan atau realitas memang bisa didekati ontologi dengan dua macam sudut pandang:

a.    Kuantitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan itu tunggal atau jamak?

b.    Kualitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan (realitas) tersebut memiliki kualitas tertentu, seperti misalnya daun yang memiliki warna kehijauan, bunga mawar yang berbau harum.

Secara sederhana ontologi bisa dirumuskan sebagai ilmu yang mempelajari realitas atau kenyataan konkret secara kritis.

Beberapa aliran dalam bidang ontologi, yakni realisme, naturalisme, empirisme. Istilah istilah terpenting yang terkait dengan ontologi adalah: yang-ada (being), kenyataan/realitas (reality), eksistensi (existence), esensi (essence),  substansi (substance), perubahan (change), tunggal (one), jamak (many).

Bahasan lain terkait dengan ontologi yaitu ontologi membahas tentang yang ada, yang tidak terikat oleh satu perwujudan tertentu. Ontologi membahas tentang yang ada yang universal, menampilkan pemikiran semesta universal. Ontologi berupaya mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan, atau dalam rumusan Lorens Bagus; menjelaskan yang ada yang meliputi semua realitas dalam semua bentuknya.

Lorens Bagus memperkenalkan tiga tingkatan abstraksi dalam ontologi, yaitu : abstraksi fisik, abstraksi bentuk, dan abstraksi metaphisik. Abstraksi fisik menampilkan keseluruhan sifat khas sesuatu objek; sedangkan abstraksi bentuk mendeskripsikan sifat umum yang menjadi cirri semua sesuatu yang sejenis. Abstraksi metaphisik mengetangahkan prinsip umum yang menjadi dasar dari semua realitas. Abstraksi yang dijangkau oleh ontologi adalah abstraksi metaphisik.

Sedangkan metode pembuktian dalam ontologi oleh Laurens Bagus di bedakan menjadi dua, yaitu : pembuktian a priori dan pembuktian a posteriori.

Pembuktian a priori disusun dengan meletakkan term tengah berada lebih dahulu dari predikat; dan pada kesimpulan term tengah menjadi sebab dari kebenaran kesimpulan.

Contoh :          Sesuatu yang bersifat lahirah itu fana            (Tt-P)

Badan itu sesuatu yang lahiri                          (S-Tt)

Jadi, badan itu fana’                                        (S-P)

 

Sedangkan pembuktian a posteriori secara ontologi, term tengah ada sesudah realitas kesimpulan; dan term tengah menunjukkan akibat realitas yang dinyatakan dalam kesimpulan hanya saja cara pembuktian a posterioris disusun dengan tata silogistik sebagai berikut:

Contoh :          Gigi geligi itu gigi geligi rahang dinasaurus    (Tt-S)

Gigi geligi itu gigi geligi pemakan tumbuhan              (Tt-P)

Jadi, Dinausaurus itu pemakan tumbuhan                 (S-P)

Bandingkan tata silogistik pembuktian a priori dengan a posteriori. Yang apriori di berangkatkan dari term tengah di hubungkan dengan predikat dan term tengah menjadi sebab dari kebenaran kesimpulan; sedangkan yang a posteriori di berangkatkan dari term tengah di hubungkan dengan subjek, term tengah menjadi akibat dari realitas dalam kesimpulan.

 

4. EPISTEMOLOGI

Epistemologi merupakan gabungan dua kalimat episteme, pengetahuan; dan logos, theory. Epistemologi adalah cabang ilmu filasafat yang menengarai masalah-masalah filosofikal yang mengitari teori ilmu pengetahuan.

Menurut Keith Lehrer (http://www.ditext.com/clay/lehrer) secara historis ada tiga perspektif dalam epistemology yang berkembang di Barat, yaitu: (1) Dogmatic Epistemology; (2) Critical Epistemology; dan (3) Scientific Epistemology.

a.    Dogmatic Epistemology: adalah pendekatan tradisional terhadap epistemology, terutama Plato. Dalam perspektif epistemology dogmatif, metaphysics (ontology) diasumsikan dulu ada, baru kemudian ditambahkan epistemology. Singkatnya, epistemology dogmatif menetapkan ontology sebelum epistemology.

b.    Critical Epistemology. Descartes membalik epistemology dogmatic dengan menanyakan apa yang dapat kita ketahui sebelum menjelaskannya. Pertanyakan dulu secara kritis, baru diyakini. Ragukan dulu bahwa sesuatu itu ada, kalau terbukti ada, baru dijelaskan. Berfikir dulu, baru yakini atau tidak. Ragukan dulu, baru yakini atau tidak. Descartes menganut the immediacy theses, bahwwa apa yang kita ketahui adalah terbatas pad ide-ide yang adalah jiwa kita (our own minds). Metode Descartes disebut juga metode skeptis. Yakni, skeptis bahwa kita dapat mengetahui secara langsung objek di luar diri kita tanpa melalui jiwa kita. Thesis ini dikembangkan oleh David Hume dengan teori primary qualities dan secondary qualities. Pertanyaan utama epsitemologi jenis ini: Apa yang dapat kita ketahui? Dapatkah kita mengetahuinya? Munkinkah kita dapat mengetahui sesuatu di luar diri kita? Singkatnya, epistemology kritis metapkan ontology setelah epistemology.

c.    Scientific Epistemology. Pertanyaan utama epsitemologi jenis ini: Apa yang benar-benar sudah kita ketahui dan bagaimana cara kita mengetahuinya? Epistemology ini tidak peduli apakah batu di depan mata kita adalah penampakan atau bukan. Yang ia urus adalah bahwa ada batu di depan mata kita dan kita teliti secara sainstifik.

5. AXIOLOGI

Axiologi berasal dari kata : Axios = Nilai (Value); Logi = Ilmu; Axiologi adalah ilmu yang mengkaji tentang nilai-nilai. Axiologi (teori tentang nilai) sebagai filsafat yang membahas apa kegunaan ilmu pengetahuan bagi manusia. Aksiologi menjawab, untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu di pergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral?

Dengan demikian Aksiologi adalah nilai-nilai (value) sebagai tolok ukur kebenaran (ilmiah), etik, dan moral sebagai dasar normative dalam penelitian dan penggalian, serta penerapan ilmu (Wibisono, 2001).

About these ads

Comments are closed.